Penulis: Ben Weiss
Disusun oleh: Deep Tide TechFlow
Tautan asli:https://fortune.com/2026/03/05/okx-ice-intercontinental-exchange-investment-tokenized-securities-25-billio/
Panduan Deep Tide: Puncak infrastruktur keuangan tradisional secara resmi memasuki dunia kripto. ICE, induk perusahaan NYSE, berinvestasi di OKX dengan valuasi $250 miliar dan akan membuka perdagangan saham tokenisasi NYSE kepada penggunanya—ini bukan sekadar investasi keuangan biasa, melainkan langkah paling simbolis dalam era integrasi TradFi dan CeFi.
Musim panas lalu, Haider Rafique, Direktur Urusan Perusahaan Global OKX, secara khusus terbang ke Atlanta untuk bertemu dengan Jeffrey Sprecher, Ketua Bursa Saham New York. Pertemuan yang awalnya direncanakan 30 menit, akhirnya berlangsung selama empat jam penuh.
Beberapa bulan kemudian, obrolan informal ini berkembang menjadi serangkaian pertemuan dan penyelidikan mendalam, yang akhirnya menghasilkan kesepakatan besar. Intercontinental Exchange (ICE)—induk perusahaan yang menaungi Bursa Saham New York—telah menyelesaikan investasi strategis di OKX dengan valuasi $250 miliar dan akan menduduki satu kursi di dewan direksi OKX. Kedua pihak secara resmi mengumumkannya pada Kamis minggu ini.
Rafique menolak mengungkapkan jumlah investasi dan persyaratan spesifik dari ICE, tetapi menekankan bahwa kedua pihak memiliki visi yang sangat selaras.
"Cara pandang kami terhadap dunia, pandangan tentang masa depan sekuritas tokenisasi, bagaimana derivatif dapat melangkah ke panggung global, serta bagaimana keuangan tradisional dan aset digital dapat bersatu—ada kecocokan yang kuat antara kami," kata Rafique menggambarkan pertemuan pertamanya dengan Jeffrey Sprecher.
Kesepakatan ini bukan hanya investasi keuangan belaka. OKX akan menyediakan aliran data harga real-time aset kripto yang dapat diperdagangkan di platformnya kepada ICE; yang lebih penting, pengguna OKX akan dapat langsung memperdagangkan saham dan derivatif tokenisasi yang terdaftar di Bursa Saham New York—fitur ini diperkirakan akan diluncurkan pada paruh kedua tahun 2026. Yang dimaksud dengan "tokenisasi" adalah proses membungkus aset keuangan ke dalam wrapper blockchain, yang menurut para pendukungnya dapat mengurangi biaya seperti biaya transaksi. "Ini sama sekali bukan investasi yang biasa," tegas Rafique.
Lanskap Persaingan Baru
Investasi ICE ke OKX adalah langkah penting yang diambil raksasa bursa ini untuk mengikuti perubahan cepat dalam model perdagangan, tetapi bukan yang pertama.
Pada November lalu, ICE mengumumkan investasi sebesar $20 miliar ke platform pasar prediksi Polymarket, dengan valuasi mencapai $90 miliar. Pada Januari tahun ini, ICE juga mengumumkan sedang mengembangkan infrastruktur perdagangan sekuritas tokenisasi berbasis blockchain secara mandiri.
ICE bukan satu-satunya contoh lembaga keuangan lama yang memasang taruhan pada perusahaan kripto. Pada November lalu, market maker Citadel Securities berinvestasi $200 juta ke bursa kripto Kraken dengan valuasi $200 miliar.
"Pesaing masa depan untuk lembaga seperti ICE belum tentu lembaga tradisional seperti CME atau Nasdaq, tetapi lebih mungkin berupa protokol DeFi atau aplikasi super," ujar Michael Blaugrund, Wakil Presiden Inisiatif Strategis ICE, dengan nada yang mengarah ke Robinhood serta platform DeFi Uniswap yang baru-baru ini mengumumkan kerja sama dengan BlackRock.
Dalam wawancara, Blaugrund menolak memberikan penjelasan rinci tentang pembangunan platform perdagangan blockchain. Ia menyatakan bahwa platform tokenisasi yang dibangun ICE sendiri dan rencana membuka perdagangan saham tokenisasi kepada pengguna OKX adalah "proyek yang saling melengkapi, tetapi bukan proyek yang sama".
Strategi OKX di Amerika
Bagi OKX, kerja sama dengan ICE adalah bagian penting dalam membentuk kembali citranya—dari bursa lepas pantai yang berbasis di Asia Timur, menjadi pusat perdagangan global yang beroperasi secara合规 di AS. Tujuan ini semakin mendesak di tengah pesaing seperti Binance yang terus-menerus dilanda masalah合规.
"Kami adalah salah satu yang paling sadar dalam industri ini," demikian Rafique memposisikan OKX.
Pada Februari 2025, OKX membayar denda $500 juta kepada Departemen Kehakiman AS karena menjalankan bisnis pengiriman uang tanpa izin, dan mengaku bersalah atas satu tuduhan terkait. Pada April 2025, OKX menyelesaikan peluncuran kembali di AS. Rafique menyatakan bahwa OKX berencana memindahkan hingga 2000 orang dari 5000 karyawannya ke AS, tetapi tidak mengungkapkan jadwal spesifik. "Khususnya untuk mendukung produk ini, kami pasti akan berinvestasi besar-besarkan di AS," katanya, merujuk pada rencana perdagangan saham tokenisasi dan aset ICE lainnya.
Rafique juga menyampaikan harapan yang lebih besar untuk prospek kerja sama kedua pihak. "Kami adalah perusahaan tiga huruf, mereka juga perusahaan tiga huruf," katanya, "Harapan saya, mungkin kita dapat membangun hubungan yang lebih besar di antara kita."






