Meskipun IMF mengakui bahwa tokenisasi dapat meningkatkan transparansi dan mengurangi friksi di sektor keuangan, lembaga itu juga memperingatkan bahwa teknologi tersebut dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas sektor.
Dengan penyelesaian atomik dan peningkatan transparansi yang mengurangi risiko-risiko lama, serta kecepatan dan otomatisasi yang memperkenalkan risiko baru, dampak total tokenisasi terhadap stabilitas keuangan masih belum diketahui, menurut penilaian 23 halaman IMF yang dirilis pada Kamis.
Berdasarkan statistik dari RWA.xyz, total nilai aset yang ditokenisasi di onchain melebihi $27,6 miliar (tidak termasuk stablecoin). Pasar tokenisasi mungkin mencapai $16 triliun pada 2030, menurut proyeksi Boston Consulting Group tahun 2022, tetapi perkiraan yang lebih hati-hati sebesar $2 triliun menurut prediksi McKinsey & Co tahun 2024.
Efek Positif dan Negatif
International Monetary Fund (IMF) menyatakan bahwa meskipun tokenisasi memang meningkatkan penerbitan, perdagangan, penyelesaian, dan pengelolaan sekuritas serta instrumen keuangan lainnya, hal itu juga memindahkan risiko dari sektor perbankan ke buku besar bersama dan kode kontrak pintar.
Menurut lembaga tersebut, tokenisasi memiliki aspek positif dan negatif. Di satu sisi, ini dapat memfasilitasi pembayaran lintas batas yang lebih cepat dan meningkatkan inklusi keuangan di negara-negara berkembang. Di sisi lain, ini meningkatkan bahaya volatilitas arus modal, substitusi mata uang, dan hilangnya kedaulatan moneter.
Beberapa tokoh Wall Street terkemuka, termasuk Larry Fink, CEO BlackRock, telah mengadvokasi tokenisasi berbagai aset di blockchain, termasuk ekuitas, obligasi, dana pasar uang, dan bahkan real estat.
Platform tokenisasi BlackRock USD Institutional Digital Liquidity Fund, Securitize, menempati peringkat pertama di antara platform tokenisasi RWA berdasarkan total nilai terkunci sebesar $3,38 miliar, menurut kutipan CryptoDep dari data 1 April.
Intercontinental Exchange, perusahaan induk New York Stock Exchange, juga telah mengambil tindakan, mengatakan pada bulan Januari bahwa mereka akan menyediakan platform tokenisasi yang memungkinkan penyelesaian pasca perdagangan dana yang diperdagangkan di bursa dan ekuitas serta perdagangan aset-aset ini 24/7 menggunakan teknologi blockchain.
Pasar yang ditokenisasi berisiko menjadi terfragmentasi dan tidak penting jika tidak ada kepastian hukum mengenai catatan kepemilikan dan finalitas penyelesaian, menurut International Monetary Fund (IMF).
Berita Crypto Terbaru yang Disoroti:
Perizinan Stablecoin Hong Kong Ditunda karena HKMA Menahan Persetujuan





