Direktur Eksekutif Dewan Kripto Gedung Putih Patrick Witt telah menetapkan tanggal 1 Maret sebagai batas waktu bagi bank dan perusahaan kripto untuk menyelesaikan perselisihan mereka mengenai imbalan stablecoin.
Namun, ketika tanggal itu tiba, tidak ada pengumuman yang dibuat. Tidak ada kesepakatan. Tidak ada pembaruan yang jelas.
Bagi banyak pihak di industri ini, keheningan itu menimbulkan keraguan baru tentang apakah Undang-Undang Kejelasan Pasar Aset Digital (Digital Asset Market Clarity Act) dapat bergerak maju atau akan sekali lagi terhenti di Kongres.
RUU CLARITY dalam Ketidakpastian
Sumber-sumber yang dekat dengan pembicaraan mengatakan bahwa batas waktu 1 Maret bukanlah tenggat waktu hukum yang ketat. Itu lebih merupakan taktik politik untuk mendorong kedua belah pihak berkompromi.
Negosiasi masih berlangsung. Bank dan firma kripto masih memperdebatkan perumusan yang tepat dari RUU tersebut, terutama mengenai siapa yang mengendalikan imbalan stablecoin.
Mengomentari hal yang sama, sumber tersebut mengatakan,
“Terlalu berfokus pada tanggal 1 Maret adalah sebuah kesalahan.”
Komite Perbankan Senat diperkirakan akan melihat kembali RUU CLARITY dalam waktu dekat. Jika para pembuat undang-undang dapat menyelesaikan perbedaan pendapat yang tersisa, RUU tersebut akhirnya dapat bergerak menuju pemungutan suara penuh di Senat.
Namun, sumber perbankan lain mengakui bahwa bank dan firma kripto masih memiliki perbedaan pendapat kunci dan belum mencapai keselarasan penuh atas kesepakatan.
“Ada kesepakatan secara prinsip bahwa saldo stablecoin tidak seharusnya menghasilkan bunga, tetapi firma kripto masih mencoba memasukkan APY (Annual Percentage Yield) pada saldo melalui program keanggotaan, imbalan, dan staking secara terselubung. Saya pikir itulah yang sedang menghentikan kesepakatan saat ini.”
Optimisme Tetap Ada
Namun, laporan terbaru dari JPMorgan Chase menyatakan bahwa RUU CLARITY masih bisa menjadi pendorong utama bagi pasar kripto pada paruh kedua tahun 2026.
Analis percaya RUU tersebut dapat disahkan pada pertengahan tahun dan akhirnya mengakhiri sistem “regulasi melalui penegakan hukum” yang saat ini berlaku, di mana perusahaan menghadapi tindakan hukum alih-alih aturan yang jelas.
Dengan Komite Perbankan Senat yang diharapkan untuk meninjau kembali RUU tersebut pada akhir Maret, para negosiator berada di bawah tekanan untuk menyelesaikan masalah-masalah ini.
Beberapa minggu ke depan dapat menentukan apakah RUU CLARITY akan bergerak maju atau menghadapi penundaan lagi.
Amanda Tuminelli, direktur eksekutif DeFi Education Fund, menambahkan,
“Saya pikir secara keseluruhan segala sesuatu bergerak, dan terasa seperti isu-isu sedang ditutup, tetapi DeFi telah diprioritaskan di belakang pembicaraan tentang imbal hasil (yield). Kami menunggu Komite Perbankan Senat untuk mengumumkan tanggal markup berikutnya dan teks yang diperbarui, jadi saya pikir semua orang dengan cemas menunggu untuk melihat seperti apa draf berikutnya.”
Apakah Peluangnya Naik atau Turun?
Sebelumnya, perusahaan-perusahaan kripto percaya bahwa RUU GENIUS memberi mereka beberapa perlindungan. Mereka berargumen bahwa bahkan jika penerbit stablecoin seperti Circle tidak dapat menawarkan imbalan, platform pihak ketiga seperti Coinbase bisa.
Namun, Kantor Pengawas Mata Uang (Office of the Comptroller of the Currency - OCC) baru-baru ini menolak. OCC menyarankan bahwa program imbalan pihak ketiga mungkin masih bertentangan dengan maksud undang-undang.
Langkah ini telah membuat situasi hukum menjadi lebih tidak pasti bagi perusahaan-perusahaan kripto.
Ketidakpastian ini juga terlihat di pasar. Di Polymarket, peluang disahkannya RUU CLARITY pada tahun 2026 turun tajam pada tanggal 24 Februari, dari 72% menjadi 42% hanya dalam satu hari.
Sekarang, seiring dimulainya Maret, peluangnya sekitar 56%, tetapi kemudian melonjak menjadi 73% dalam hitungan jam.
Itu menunjukkan bahwa hasilnya masih jauh dari pasti. Tinjauan Senat berikutnya tidak hanya akan menentukan nasib RUU tersebut tetapi juga mempengaruhi bagaimana AS menyeimbangkan stabilitas keuangan dengan inovasi kripto di tahun-tahun mendatang.
Ringkasan Akhir
- Bank khawatir dengan arus keluar simpanan dan ketidakstabilan keuangan, sementara firma kripto berargumen bahwa imbalan sangat penting untuk utilitas dan daya saing.
- Sentimen pasar mencerminkan ketegangan ini, dengan peluang di Polymarket berayun tajam pada setiap perkembangan.







