a16z: In Defense of Stablecoins

a16zDipublikasikan tanggal 2022-08-11Terakhir diperbarui pada 2022-08-11

Abstrak

Algorithmic stablecoins present a unique opportunity to make all sorts of assets productive and drive digital commerce around the globe.

This op-ed originally appeared as “In defence of stablecoins” on the Financial Times’s website on Monday, August 8, 2022, and in the newspaper’s print edition on Tuesday, August 9, 2022.

Crypto critics are using the collapse of dollar-pegged virtual currency Terra as ammunition to attack stablecoins and the crypto industry as a whole.

Lost in the conversation is, however, the root cause of the turmoil. A better understanding of what went wrong — and why — could help protect consumers while safeguarding innovation.

It’s important first to clarify terms. A stablecoin is cryptocurrency whose price is nominally “pegged” to a stable asset such as the U.S. dollar. People commonly blame the recent blow-up on so-called “algorithmic stablecoins,” which are typically programmed to automatically incentivize the creation and destruction of coins to maintain the price peg.

The attack on them is off the mark. Putting aside that TerraUSD should never have been considered a “stablecoin,” the real issue here has little to do with computer code and everything to do with a concept as old as finance itself: collateralization, or the use of assets to underpin value.

It is a crucial point that policymakers across the world need to consider as they draft legislation to prevent future Terra-like collapses. If legislators believe algorithms are to blame, they risk enacting counter-productive, innovation-stifling regulations. Poorly designed laws could disrupt markets, encourage regulatory arbitrage, and diminish Western democracies’ influence in the rising, decentralized internet economy known as web3.

The promise of decentralized finance — DeFi — rests largely on the breakthrough ability of blockchains to execute transparent, algorithmic contracts with instant finality.

Amid the recent market volatility, the vast majority of “decentralized” stablecoins backed by blockchain assets such as bitcoin and ether performed superbly, handling extreme price fluctuations and unprecedented redemptions without fail. Generally speaking, algorithms aren’t the issue with modern stablecoins. Instead, essentially all risk now arises from their collateral design.

The riskiest stablecoins are readily apparent: they are significantly under-collateralized (less than $1 of collateral is required to mint $1 of stablecoin), and they rely on “endogenous” collateral (collateral created by the issuer such as governance tokens that give holders voting powers on a blockchain’s rules and procedures).

Endogenous collateral enables dangerous, explosive growth: when an issuer’s governance token appreciates, users can mint many more stablecoins. That sounds fine until one considers the flipside: When the price declines — as is practically guaranteed during a bank run — cascading collateral liquidations to meet redemptions trigger a death spiral. See TerraUSD as an example.

Regulation is necessary to prevent similar breakdowns, but overly restrictive rules are not. The truth is enforcement actions under existing securities laws and anti-fraud statutes could have curtailed the proliferation of nearly every failed stablecoin to date.

Even so, additional, targeted regulation could be beneficial. While it is difficult to pinpoint exactly where regulators should establish collateralization requirements, it’s clear that without guardrails, stablecoin issuers may once again take on unreasonable amounts of risk.

Well-tailored rulemaking could support the crypto ecosystem and protect consumers. Wholesale changes — such as prohibiting the use of algorithms and digital assets as collateral altogether — would place an enormous burden on the burgeoning DeFi industry, disrupt digital asset markets, and hinder web3 innovation.

This is because stablecoins can, indeed, be stable if they manage their collateral properly. For “centralized” stablecoins backed by real-world assets, the liquidity and transparency of reserves may be low, so collateral should include less volatile assets like cash, treasuries, and bonds. Regulators can establish parameters regarding these types of collateral and require regular audits.

For “decentralized” stablecoins, the almost exclusive use of blockchain assets such as bitcoin or ether as collateral has trade-offs. Digital assets, while often volatile, are also highly liquid and can be transparently and algorithmically managed. Liquidity can happen nearly instantaneously, enabling much more efficient systems. As a result, decentralized stablecoins could, ultimately, be more resilient than centralized ones.

Algorithmic stablecoins present a unique opportunity to make all sorts of assets productive and drive digital commerce around the globe. Placing guardrails around their collateral could help unlock that potential.

Bacaan Terkait

Panduan Membeli di Titik Terendah oleh Grayscale: Menilai Nilai Cryptocurrency Menggunakan Arus Kas

**Panduan Investasi di Titik Terendah Pasar dengan Analisis Arus Kas untuk Kripto** Pasar kripto telah turun sejak awal tahun, menimbulkan pertanyaan tentang aset mana yang bernilai investasi pada harga saat ini. Banyak aset kripto, seperti token DeFi, mirip dengan instrumen keuangan dan dapat dinilai berdasarkan arus kas mereka. Laporan ini menggunakan Aave, platform pinjam-meminjam terdepan, sebagai studi kasus. Analisis menggunakan model Discounted Cash Flow (DCF) dan perbandingan rasio harga terhadap laba (P/E) menunjukkan bahwa token AAVE (AAVE) memiliki nilai wajar antara $80 - $100 pada level harga saat ini (~$75). Dengan asumsi pertumbuhan yang dipercepat karena adopsi stablecoin dan tokenisasi aset riil (RWA), valuasi bisa mencapai sekitar $175 dalam setahun. Laporan ini menekankan pentingnya mengklasifikasikan aset kripto (sebagai "aset komoditas" seperti Bitcoin atau "aset arus kas" seperti token DeFi) dan menggunakan kerangka penilaian yang sesuai. DeFi telah membuktikan dirinya sebagai sektor yang menghasilkan pendapatan nyata. Kunci penilaiannya bukan hanya pendapatan protokol, tetapi mekanisme "value capture" yang jelas – bagaimana keuntungan protokol dialirkan kembali ke pemegang token melalui mekanisme seperti pembelian kembali (buyback) atau distribusi. Aave, sebagai DAO yang matang dengan pendapatan beragam, neraca yang kuat, dan roadmap produk yang solid (seperti stablecoin GHO dan pasar institusional Horizon), menunjukkan bagaimana kesuksesan protokol dapat terikat dengan nilai token. Namun, ketidakpastian regulasi untuk DAO tetap menjadi tantangan. Undang-undang seperti **CLARITY Act** (dengan probabilitas disahkan 51% pada 2026) dapat memberikan kejelasan dengan mengkategorikan aset seperti AAVE sebagai "aset jaringan". Kesimpulannya, pasar semakin matang dan menghargai proyek dengan fundamental bisnis nyata, pendapatan berkelanjutan, dan alokasi modal yang disiplin. Investor harus beralih dari spekulasi naratif ke analisis fundamental berbasis arus kas dan multipler untuk mengidentifikasi peluang di proyek-proyek seperti Aave, Uniswap, dan lainnya.

marsbit6m yang lalu

Panduan Membeli di Titik Terendah oleh Grayscale: Menilai Nilai Cryptocurrency Menggunakan Arus Kas

marsbit6m yang lalu

Setelah Semikonduktor Memimpin Kenaikan, Apakah Dana Membeli Pesanan AI Atau Pemulihan Makro?

**Inti Artikel:** Setelah konflik geopolitik mereda, saham teknologi AS naik, terutama di sektor semikonduktor dan rantai perangkat keras AI. Kunci pertanyaannya: apakah kenaikan ini didorong oleh pemulihan makro (valuasi) atau pesanan AI yang riil? **Poin Utama:** 1. **Pemicu Awal: Risiko Geopolitik Turun.** Kesepakatan AS-Iran untuk perpanjangan gencatan senjata dan navigasi di Selat Hormuz mengurangi ketakutan akan lonjakan harga minyak dan inflasi. Ini meredakan tekanan pada suku bunga dan memberikan ruang bagi pemulihan valuasi saham pertumbuhan, termasuk teknologi. 2. **Uang Mengalir ke Rantai Perangkat Keras AI.** Aliran dana tidak merata ke semua sektor teknologi. Dana lebih terkonsentrasi pada chip, interkoneksi optik, memori, dan manufaktur domestik. Ini menunjukkan investor lebih selektif, mencari perusahaan dengan pendapatan riil dari pembangunan infrastruktur AI/data center (misalnya, Astera Labs dengan laporan pendapatan yang kuat). 3. **Contoh Kasus: Intel.** Lonjakan saham Intel (~10-11%) dipicu pernyataan Trump tentang kolaborasi dengan Apple, yang masuk dalam narasi manufaktur domestik dan kebijakan. Namun, ini masih berupa katalis kebijakan. Fundamental Intel (skala kontrak, timeline, profitabilitas) perlu dibuktikan lebih lanjut. 4. **Peringatan dan Verifikasi Ke Depan.** Kenaikan ini adalah **perbaikan selektif dalam selera risiko**, bukan konfirmasi siklus AI yang dipercepat kembali. Kelanjutannya bergantung pada: * **Data Makro:** Stabilitas navigasi Selat Hormuz dan harga minyak. * **Data Mikro (Kunci):** Laporan Q2 harus menunjukkan pengeluaran modal (_capital expenditure_) vendor cloud yang tetap kuat, pesanan server AI yang berkelanjutan, serta pandangan pendapatan perusahaan interkoneksi optik dan memori yang terus tumbuh. * **Kasus Intel:** Perlu konfirmasi detail kolaborasi dengan Apple yang berdampak finansial. **Kesimpulan:** Pasar memanfaatkan jendela perbaikan valuasi dari meredanya risiko geopolitik untuk membeli kembali aset-aset dalam rantai perangkat keras AI yang memiliki visibilitas pendapatan lebih nyata. Namun, tren jangka panjang bergantung pada verifikasi order dan profitabilitas di kuartal-kuartal mendatang.

marsbit16m yang lalu

Setelah Semikonduktor Memimpin Kenaikan, Apakah Dana Membeli Pesanan AI Atau Pemulihan Makro?

marsbit16m yang lalu

Kraken Tambahkan Perdagangan Token On-Chain Solana Langsung di Dalam Aplikasinya

**Kraken Tambahkan Perdagangan Token On-Chain Solana Langsung di Aplikasinya** Kraken kini mengizinkan perdagangan token on-chain Solana langsung dalam aplikasi utamanya. Fitur ini tersedia bagi pengguna di AS dan lebih dari 100 negara, dengan sekitar 2.500 token berbasis Solana yang terverifikasi pada peluncurannya. Dengan fitur baru ini, pengguna tidak perlu lagi membuat dompet eksternal, menyimpan frasa seed, atau beralih antar aplikasi untuk berdagang aset di jaringan Solana. Kraken membungkus seluruh proses on-chain ke dalam antarmuka yang sudah dikenal pengguna, sehingga aset on-chain muncul bersama aset Kraken lainnya di portofolio yang sama. Langkah ini merupakan upaya Kraken untuk menjembatani kesenjangan antara perdagangan terpusat (CEX) dan terdesentralisasi (DeFi). Solana dipilih sebagai jaringan pertama karena likuiditas dan aktivitas perdagangan token barunya yang tinggi, yang seringkali terbentuk on-chain sebelum terdaftar di bursa terpusat. Infrastruktur fitur ini didukung oleh teknologi dompet tersemat dari Privy dan protokol DEX Solana, yang menangani mekanisme dompet dan transaksi di latar belakang. Meski antarmuka lebih sederhana, Kraken mengingatkan bahwa token yang diperdagangkan melalui DEX ini belum tentu direview seperti pencatatan terpusat, sehingga risiko pasar tetap ada. Perilisan ini mencerminkan tren besar di mana bursa terpusat berusaha mengakomodasi aktivitas DeFi ke dalam platform mereka, agar tidak kehilangan pengguna yang beralih ke perdagangan on-chain.

bitcoinist1j yang lalu

Kraken Tambahkan Perdagangan Token On-Chain Solana Langsung di Dalam Aplikasinya

bitcoinist1j yang lalu

Seluruh Dunia Mengagumi Kedatangan Noam, Namun Utang OpenAI Semakin Menebal

OpenAI mengumumkan perekrutan Noam Shazeer, salah satu penulis kunci makalah "Attention Is All You Need", sebagai pemimpin penelitian arsitektur, yang disambut antusias. Namun, di saat yang sama, laporan keuangan teraudit perusahaan mengungkapkan kerugian operasional besar: $20,92 miliar pada 2025 dan pembakaran tunai $3,7 miliar pada kuartal pertama 2026. Artikel ini mempertanyakan logika di balik perekrutan bintang mahal ini dengan latar belakang tekanan keuangan yang parah. Inti masalah OpenAI bukanlah kekurangan bakat teknis, tetapi model bisnisnya: biaya komputasi yang sangat tinggi (termasuk $10,59 miliar untuk sewa daya komputasi dari Microsoft), sambil mengandalkan basis pengguna gratis yang luas dengan hanya 50 juta pengguna berbayar. Sementara itu, OpenAI telah kehilangan banyak pendiri dan peneliti inti seperti Ilya Sutskever dan Jan Leike, menunjukkan pergeseran fokus dari penelitian eksplorasi ke iterasi produk. Perekrutan Noam dilihat sebagai "pembelian cemas" yang lebih bertujuan untuk menciptakan narasi yang kuat guna mendukung valuasi IPO yang sangat tinggi (hingga $1 triliun), daripada menyelesaikan masalah profitabilitas mendasar. Sebagai perbandingan, Anthropic dilaporkan mendekati profitabilitas dengan fokus pada klien korporat yang memberikan aliran pendapatan yang lebih stabil dan dapat diprediksi. Artikel menyimpulkan bahwa tanah subur untuk inovasi berkelanjutan datang dari budaya internal yang mempertahankan talenta, bukan dari menyewa bintang mahal, dan bahwa lembar neraca tidak peduli dengan kejeniusan individu, melainkan dengan jalur yang jelas menuju keberlanjutan keuangan.

marsbit2j yang lalu

Seluruh Dunia Mengagumi Kedatangan Noam, Namun Utang OpenAI Semakin Menebal

marsbit2j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片