SEC Orders Crypto Startup to Register ICO Tokens or Face $31M Fine

BlockworksDipublikasikan tanggal 2022-08-10Terakhir diperbarui pada 2022-08-10

Abstrak

SEC regulators found crypto startup Bloom promoted its tokens as investment contracts, legally qualifying them as securities

Crypto startup Bloom Protocol has been ordered by the US Securities and Exchange Commission (SEC) to register its tokens or face a $31 million fine.

The SEC issued a cease-and-desist order to the company on Tuesday, accusing it of offering unregistered securities.

Bloom violated the Securities Act by offering and selling Bloom Tokens (BLT) in an unregistered ICO between November 2017 and January 2018, the order said.

The Gibraltar-registered firm managed to raise $30.9 million from nearly 7,400 investors around the world, including in the US, which means the SEC plans to fine Bloom for the amount of crypto raised in its ICO.

Founded in 2017, Bloom describes itself as a blockchain-powered solution for credit scoring that aims to reduce the risk of identity theft. It claims its system minimizes fraud prevention and the cost of customer onboarding.

Bloom promoted BLT as investment contracts which inherently marks them as securities, in line with the Howey Test, according to the SEC.

“A purchaser in the offering of BLT would have had a reasonable expectation of obtaining a future profit based upon Bloom’s efforts … to create an online identity attestation system that would increase the token’s value on crypto asset trading platforms,” the regulator said.

Bloom’s crypto tanks even more after SEC order

BLT opened trade in late January 2018 at around $1.38, still its record high, at the height of the previous bull market, per CoinGecko. BLT went on to collapse up to 80% over the next few months — an incredibly volatile time for cryptocurrencies, especially so for small and illiquid ones like BLT.

After a brief spike above $1 in May 2018, BLT’s price has been firmly squashed ever since. Bloom’s token now trades for a fraction of a cent, after dumping 70% on news of the SEC’s action.

At its peak, BLT’s market capitalization reached nearly $60 million, however that figure is now less than $500,000.

Bloom allegedly told prospective investors its limited presale was “oversubscribed” and that it raised a “hard cap of $50m total.” The average investment during the pre-sale was $340,000 and the average during the public sale was $2,000, regulators found, which when calculated don’t add up to the advertised cap.

Bloom is expected to register BLT as a class of securities within 270 days and inform investors about potential claims to recover their money within 60 days. It has been ordered to fulfill all payments to investors within three months of the claim form’s submission deadline.

Bloom didn’t return Blockworks’ request for comment by press time.

Bacaan Terkait

Di Balik Skor AI, Ada "Pembuat Soal" Seorang Tionghoa

Setiap peluncuran model AI terbaru, industri sering merujuk pada sejumlah "rapor" standar seperti MMLU-Pro, MMMU, dan MMMU-Pro. Di balik sistem evaluasi kunci ini, terdapat seorang "penyusun soal" bernama Chen Wenhu, asisten profesor di University of Waterloo. MMLU-Pro dikembangkan oleh Chen dan timnya sebagai respons atas keterbatasan MMLU lama. Ketika model-model mutakhir seperti o3 OpenAI mulai mencapai skor hampir sempurna, MMLU-Pro hadir dengan 12.032 soal yang lebih menantang, memperluas pilihan jawaban dan menekankan penalaran, sehingga berhasil membedakan kemampuan model yang sebelumnya tampak setara. Chen juga terlibat dalam MMMU, tolok ukur multimodal yang mengevaluasi pemahaman model terhadap gambar, grafik, dan teks secara terintegrasi. MMMU-Pro kemudian menyempurnakannya dengan memastikan model tidak bisa mengandalkan teks saja. Latar belakang Chen dalam pemahaman informasi kompleks dan pengembangannya di Google DeepMind untuk proyek Gemini memberinya wawasan mendalam. Ia mendirikan TIGERLab (atau "Geng Harimau"), yang tidak hanya fokus pada evaluasi tetapi juga riset model, seperti UniVideo untuk video dan MoCha untuk karakter virtual. Saat ini, Chen bergabung dengan Meta Super Intelligence Lab, terus berkontribusi pada data dan evaluasi multimodal. Karyanya mengingatkan bahwa di balik kemajuan AI yang terlihat, ada banyak talenta seperti dirinya yang membangun fondasi penting bagi perkembangan industri.

marsbit22m yang lalu

Di Balik Skor AI, Ada "Pembuat Soal" Seorang Tionghoa

marsbit22m yang lalu

Posisi Baru yang Paling Banyak Dicari di Silicon Valley Telah Muncul

Selama tiga tahun terakhir, posisi yang paling diminati di industri AI adalah ilmuwan model. Namun, kini fokus perusahaan raksasa seperti OpenAI, Anthropic, dan Google telah berubah. Mereka kini paling ingin merekrut Forward Deployment Engineer (FDE) – insinyur penyebaran garis depan. Posisi ini, yang melibatkan kerja lapangan, rapat, dan modifikasi proses, menandai pergeseran besar industri: mitos model meredup, perang implementasi dimulai. Laporan LinkedIn 2026 menunjukkan bahwa perekrutan FDE global meningkat 42 kali lipat dari 2023 hingga 2025, tiga kali lebih cepat daripada pertumbuhan posisi insinyur AI. Ini mengungkap kenyataan: model sudah canggih, tetapi banyak perusahaan gagal mengadopsinya karena kendala organisasi, seperti data lama, alur kerja yang kaku, dan masalah integrasi sistem. Palantir Technologies adalah pelopor dalam mengembangkan peran FDE. Alih-alih menjual perangkat lunak standar, mereka mengirim insinyur untuk tinggal di lokasi klien, memahami proses, dan menyesuaikan solusi. Metode ini kini menjadi acuan. Pada Mei 2026, tiga raksasa AI mengambil langkah serius untuk implementasi. Anthropic meluncurkan perusahaan patungan senilai $15 miliar untuk men-deploy model Claude. OpenAI membentuk anak perusahaan Deployment Company (DeployCo) dengan investasi awal lebih dari $40 miliar dan mengakuisisi firma konsultan Tomoro. Google Cloud secara masif membuka lowongan untuk FDE. Ini adalah sinyal kuat bahwa fokus telah beralih dari pembuatan model ke penyebaran hasil. FDE tidak hanya menjual alat, tetapi menjamin hasil. Mereka harus memahami teknologi sekaligus dinamika organisasi, menggantikan peran manajer produk, arsitek, manajer proyek, dan insinyur AI. Gaji mereka yang tinggi (hingga $500.000) mencerminkan kompleksitas tugas: mengatasi hambatan organisasi seperti budaya korporat, kepatuhan, dan pembagian tanggung jawab, yang seringkali menjadi penyebab utama kegagalan proyek AI, seperti yang dialami oleh Goldman Sachs dan Target. Kesimpulannya, saat model, daya komputasi, dan Agen menjadi semakin murah, kemampuan yang menjadi sangat berharga adalah memahami organisasi, mengubah proses, dan mendorong perubahan. FDE populer karena industri AI akhirnya mengakui bahwa bagian tersulit dari revolusi teknologi bukanlah teknologinya, melainkan manusianya.

marsbit35m yang lalu

Posisi Baru yang Paling Banyak Dicari di Silicon Valley Telah Muncul

marsbit35m yang lalu

Saat Piala Dunia Bertemu Agen: Dari Web2 ke Web3, Bagaimana Dompet Menuju ke Agentic Wallet?

Piala Dunia menjadi momen yang relevan untuk mengamati evolusi dompet digital (wallet). Dalam skenario prediksi Piala Dunia di platform seperti Polymarket, dompet web3 tradisional berfungsi sebagai pintu masuk interaksi on-chain bagi pengguna. Namun, perubahan yang lebih mendasar terjadi ketika AI Agent mulai diintegrasikan ke dalam skenario dompet, mengubah cara pengguna berinteraksi dengan dunia on-chain. Contohnya, imToken bereksperimen dengan menyematkan AI Agent dalam aktivitas prediksi Piala Dunia. Agent di situs web dan Discord ini dapat membantu pengguna menyelesaikan transaksi taruhan secara lebih alami. Pengguna tidak lagi harus membuka aplikasi dompet secara langsung, tetapi dapat berpartisipasi melalui Discord atau halaman web, kemudian dengan mulus dipandu kembali ke transaksi on-chain oleh Agent. Ini merupakan bentuk awal dari "Agentic Wallet", di mana dompet masa depan mungkin hadir dalam bentuk AI yang ada di mana-mana, bukan hanya sebagai aplikasi mandiri. Inti perubahan ini adalah pergeseran dari dompet sebagai "menu fungsi" menjadi "penerjemah intensi" (intent interpreter). Daripada pengguna memutuskan untuk mentransfer, menukar aset, atau menyambung ke DApp, mereka cukup menyampaikan keinginan dalam bahasa alami. Agent kemudian akan menguraikan langkah-langkahnya, dan dompet akan mengeksekusi rangkaian aksi on-chain. Piala Dunia menjadi pintu masuk yang ideal karena menyediakan konteks alami di mana pengguna memiliki intensi untuk berekspresi dan membuat keputusan. Perkembangan serupa juga terlihat di sektor keuangan tradisional. Mastercard meluncurkan "Agent Pay for Machines", yang mendefinisikan kerangka kerja untuk agen AI tepercaya yang berpartisipasi dalam pembayaran dengan otorisasi pengguna. Ini menekankan pentingnya identifikasi, otorisasi, batasan, dan audit untuk agen AI yang terlibat dalam transaksi bernilai—tantangan yang juga dihadapi oleh dompet web3. Oleh karena itu, tantangan utama bagi Agentic Wallet bukanlah seberapa banyak yang dapat dilakukan AI, tetapi bagaimana memastikan pengguna tetap memahami dan mengontrol tindakan AI. Keamanan dan batasan yang jelas menjadi sangat penting. Dompet masa depan perlu secara jelas memberi tahu pengguna tentang identitas Agent, kemampuan yang dapat digunakannya, durasi otorisasi, batas transaksi, dan memberikan opsi untuk menjeda atau mencabut akses kapan saja. Eksperimen dalam skenario ringan seperti prediksi Piala Dunia merupakan langkah awal menuju masa depan di mana dompet cerdas dapat meningkatkan pengalaman pengguna tanpa mengorbankan kendali dan keamanan aset mereka.

marsbit1j yang lalu

Saat Piala Dunia Bertemu Agen: Dari Web2 ke Web3, Bagaimana Dompet Menuju ke Agentic Wallet?

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片