‘Odds Increasing’ Of US Bitcoin Buy In 2025 – Galaxy Analyst

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2025-04-08Terakhir diperbarui pada 2025-04-08

Abstrak

Alex Thorn, Head of Research at Galaxy Digital, expressed a marked shift in his outlook regarding potential United States government...

Trusted Editorial content, reviewed by leading industry experts and seasoned editors. Ad Disclosure

Alex Thorn, Head of Research at Galaxy Digital, expressed a marked shift in his outlook regarding potential United States government purchases of Bitcoin in 2025. Writing on Sunday via X, Thorn underscored what he described as an evolving picture, stating, “It does seem increasingly likely that the USA is making progress on the logistics and mechanics of the strategic reserve. We had predicted in dec 2024 that in 2025 the US would formally hodl BTC but not purchase, but we now see the odds increasing that US govt will make at least one purchase in 2025.”

Thorn pointed to recent comments from the Trump administration as the reason for the change: “See Bessent’s comment to tucker carlson, drumbeat from sacks and hines,” as well as the upcoming deadline for the BTC audit: “Keep in mind monday is deadline from SBR EO for govt agencies to complete audit of their bitcoin / digital assets holdings. Not clear they will release anything publicly on this but likely progress being made.”

US Bitcoin Purchase In 2025?

Thorn’s reference to “Bessent’s comment” alludes to remarks made by US Treasury Secretary Scott Bessent in a recent interview with Tucker Carlson. When Carlson asked why gold is being shipped around the world right now, Bessent, after a brief reply about gold, abruptly pivoted to Bitcoin.

Steven Lubka, head of private wealth at Swan, recounted via X, “Bessent was asked ‘Why is Gold moving around the world right now?’ And after giving a one line answer, he immediately of his own accord started saying ‘there are a lot of different stores of value over time. Bitcoin is becoming a store of value. Gold has been a store of value over time.’ This is quite the signpost for those with eyes to see.”

These comments arrive on the heels of the executive order signed by President Trump on March 6, formally establishing the US Strategic Bitcoin Reserve (SBR). The order repurposes any BTC the government obtains through forfeitures and seizures, placing it under direct federal control as part of a long-term strategic asset.
Under the same directive, the Treasury and Commerce Departments are tasked with formulating strategies for acquiring additional Bitcoin “provided the methods remain budget neutral and do not impose incremental costs on United States taxpayers.”

According to Robert “Bo” Hines, Executive Director of the Presidential Council of Advisers for Digital Assets, one possibility under examination is using gold certificates, which the Federal Reserve Bank of St. Louis values at a statutory price of $42.22 per troy ounce—significantly lower than the spot price of over $3,000 per ounce.

Speaking at the Digital Assets Summit on March 18, Hines reiterated the Trump administration’s commitment to Bitcoin and offered further insight into how much BTC the government may ultimately seek to secure, invoking an analogy to gold reserves. “I’ve been asked all the time, it’s like, how much do you want? I said, well, that’s like asking a country, how much gold do you want? Right. I mean, as much as we can get.”

Hines’s remarks were echoed by David Sacks—also known as the “Crypto Czar”—who has publicly championed greater government involvement in digital assets.

At press time, BTC traded at $77,570.

Bitcoin price
BTC stabilizes above $77,000, 1-day chart | Source: BTCUSDT on TradingView.com
Featured image created with DALL.E, chart from TradingView.com
Editorial Process for bitcoinist is centered on delivering thoroughly researched, accurate, and unbiased content. We uphold strict sourcing standards, and each page undergoes diligent review by our team of top technology experts and seasoned editors. This process ensures the integrity, relevance, and value of our content for our readers.

Jake Simmons has been a Bitcoin enthusiast since 2016. Ever since he heard about Bitcoin, he has been studying the topic every day and trying to share his knowledge with others. His goal is to contribute to Bitcoin's financial revolution, which will replace the fiat money system. Besides BTC and crypto, Jake studied Business Informatics at a university. After graduation in 2017, he has been working in the blockchain and crypto sector. You can follow Jake on Twitter at @realJakeSimmons.

Bacaan Terkait

Model Raksasa Menyapu Bersih Semua Ujian, Tapi Justru Jauh dari AGI: Apa yang Dibongkar Makalah Ini?

Teks ini membahas perdebatan definisi AGI (Kecerdasan Buatan Umum) yang belum memiliki standar pengukuran yang diterima secara universal. Berbagai pihak, seperti OpenAI, Microsoft, dan para CEO, memiliki tolok ukur dan ramalan waktu yang berbeda-beda. Sebuah makalah oleh Michael Timothy Bennett dari Australian National University menawarkan definisi baru AGI sebagai "ilmuwan buatan"—yaitu, sistem yang mampu beradaptasi secara luas, efisien, dan ilmiah di bawah kendala sumber daya terbatas (komputasi, memori, energi) seperti layaknya ilmuwan manusia. Penulis mengkritik standar lama seperti Tes Turing dan uji benchmark manusia karena telah "dikuasai" oleh model bahasa besar (LLM) tanpa mendekatkan kita pada kecerdasan umum yang sesungguhnya. LLM saat ini dinilai hanya melakukan "aproksimasi maksimalisasi skala", menyimpan jawaban perkiraan untuk berbagai tugas dalam bobot jaringannya, namun gagal pada masalah di luar distribusi data pelatihan dan tidak memiliki kemampuan aktif seperti merancang eksperimen atau memahami hubungan sebab-akibat. Teks ini merinci tiga kemampuan kunci AGI sejati menurut kerangka "ilmuwan buatan": 1. Dari "boneka pasif" menjadi "peneliti aktif": Mampu merencanakan eksperimen secara mandiri untuk memperoleh informasi. 2. Dari "tahu apa" menjadi "tahu mengapa": Memiliki pemahaman kausal, bukan hanya korelasi. 3. Menyeimbangkan "eksplorasi" dan "eksploitasi": Mengalokasikan sumber daya komputasi secara dinamis di bawah kendala. Tiga pendekatan metodologis dalam membangun sistem cerdas dianalisis: *Scale-maxing* (pendekatan LLM saat ini yang menumpuk parameter dan data), *Simp-maxing* (maksimalkan kesederhanaan model), dan *W-maxing* (melemahkan batasan fungsional agar sistem menemukan solusi optimal sendiri). Kesimpulannya, AGI tidak akan tercapai hanya melalui satu pendekatan (seperti *Scaling Law*), tetapi memerlukan konvergensi berbagai metode. Jika definisi baru ini diterima, akan terjadi pergeseran paradigma dalam industri AI. Standar evaluasi akan bergeser dari peringkat ujian manusia ke "benchmark adaptasi" yang menguji kemampuan menemukan pengetahuan baru dalam lingkungan yang tidak dikenal.

marsbit1j yang lalu

Model Raksasa Menyapu Bersih Semua Ujian, Tapi Justru Jauh dari AGI: Apa yang Dibongkar Makalah Ini?

marsbit1j yang lalu

Paus Menerbitkan Ensiklik Pertama tentang AI: 40 Ribu Kata dengan 10 Pandangan Inti, Kecemasan AI Dijelaskan Secara Tuntas

Pada 15 Mei 2026, Paus Leo XIV menerbitkan ensiklik berjudul *Magnifica Humanitas*, yang pertama dalam sejarah Gereja Katolik yang berfokus pada kecerdasan buatan (AI). Dokumen setebal 40.000 kata ini membahas dampak AI yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan sistem pengambilan keputusan, memengaruhi berbagai bidang seperti pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan informasi. Ensiklik menyoroti sepuluh poin utama: (1) AI bukan musuh, tetapi telah tertanam dalam proses keputusan; (2) Kekuasaan teknologi kini banyak dipegang oleh perusahaan swasta; (3) Bahkan pengembang pun tidak sepenuhnya memahami cara kerja AI; (4) AI tidak boleh disamakan dengan kecerdasan atau subjek moral manusia; (5) Keputusan AI di bidang sensitif seperti pekerjaan dan hukum memerlukan transparansi dan pengawasan; (6) Sumber daya AI harus melayani kepentingan bersama, bukan hanya segelintir orang; (7) AI memperbesar penyebaran informasi palsu; (8) Pendidikan AI harus melatih pemikiran kritis, bukan hanya penggunaan alat; (9) AI mengubah tenaga kerja, tetapi pekerjaan juga tentang pengembangan diri; (10) Keputusan hidup dan mati yang tidak dapat diubah tidak boleh diserahkan kepada AI. Intinya, ensiklik menekankan bahwa teknologi tidak netral. Nilai dan kepentingan mereka yang mengembangkan dan mengendalikan AI membentuk bagaimana teknologi ini memengaruhi masyarakat. Tantangan terbesar AI bukanlah teknis, tetapi antropologis: AI dapat meniru hubungan, kreativitas, dan penilaian manusia, tetapi tidak dapat memikul tanggung jawab, kehendak, atau konsekuensi yang sebenarnya. Dokumen ini mengajak refleksi untuk mendefinisikan kembali makna menjadi manusia di era di mana mesin semakin mampu meniru hal-hal yang dianggap unik bagi manusia.

marsbit1j yang lalu

Paus Menerbitkan Ensiklik Pertama tentang AI: 40 Ribu Kata dengan 10 Pandangan Inti, Kecemasan AI Dijelaskan Secara Tuntas

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片