Найиб Букеле: «Биткоин не получил масштабного распространения в Сальвадоре»

investing.ruDipublikasikan tanggal 2024-08-30Terakhir diperbarui pada 2024-08-30

В интервью изданию TIME Найиб Букеле (Nayib Bukele) рассказал, что с момента легализации биткоина в Сальвадоре 7 сентября 2021 года, жители страны сдержанно пользуются криптовалютой. Букеле отметил, что Сальвадор стал одной из первых стран, принявших биткоин в качестве альтернативной законной валюты, чтобы снизить зависимость от доллара США.

«Биткоин не получил того широкого распространения, на которое мы надеялись. Однако его используют многие сальвадорцы, и он есть у большинства крупных предприятий в стране. Положительный аспект внедрения биткоина в Сальвадоре заключается в том, что люди делают это добровольно — мы никогда никого не принуждали к его принятию. Мы предложили биткоин как альтернативу», — сказал Букеле.

Президент Сальвадора добавил, что ранее правительство потратило $75 млн на распределение $30 в биткоинах среди пользователей криптокошелька Chivo, которым управляет правительство Сальвадора. По словам Букеле, граждане, которые решили использовать биткоин, получили приличную прибыль, когда криптовалюта стала возвращаться к историческому максимуму. Те, кто решил не использовать биткоин, просто не получил от него никакой выгоды.

Букеле верит, что легализация биткоина принесла стране больше положительных результатов, чем отрицательных, а выявленные проблемы оказались незначительными. По его словам, несмотря на небольшой успех в принятии биткоина, монета привлекла иностранные инвестиции в страну, что спровоцировало «всплеск» туризма. Несколько компаний, работающих с криптовалютами, уже имеют офисы или штаб-квартиры в Сальвадоре.

«Я не собираюсь говорить, что биткоин — это валюта будущего, но у этого криптоактива определенно есть большое будущее», — отметил Букеле.

В марте президент Сальвадора пообещал, что государство будет покупать по одному биткоину в день, несмотря на критические замечания со стороны Международного валютного фонда (МВФ). В августе МВФ в очередной раз порекомендовал Сальвадору прекратить использовать биткоин как средство платежа во избежание экономических рисков.

Читайте оригинальную статью на сайте Bits.media

Bacaan Terkait

Jatuhnya Zapper, Bencana Alam atau Kesalahan Manusia?

**Zapper, Platform DeFi Terkemuka, Akan Ditutup: Apa Penyebabnya?** Pada 8 Juli 2026, Zapper, platform dashboard dan agregator DeFi, mengumumkan penutupan total. Platform yang pernah memiliki 2 juta pengguna aktif bulanan dan memproses transaksi senilai $13 miliar ini menghentikan operasinya setelah bertahun-tahun berjuang. Zapper lahir pada 2020 dari merger DeFiZap dan DeFiSnap, tepat saat "DeFi Summer" dimulai. Ia berkembang pesat berkat kebutuhan pengguna untuk melacak portofolio yang tersebar di berbagai protokol. Zapper berhasil mengumpulkan pendanaan $16.5 juta dari investor ternama seperti Framework Ventures dan Mark Cuban. Namun, kesuksesan awal tidak bertahan. Model pendapatan Zapper yang bergantung pada biaya kecil dari agregasi perdagangan DEX ternyata tidak berkelanjutan di tengah persaingan ketat. Biaya tinggi untuk memelihara sistem data multi-rantai juga membebani keuangan mereka. Sementara itu, lanskap DeFi berubah: dana dan pengguna semakin terkonsentrasi di protokol-prototokol besar, mengurangi kebutuhan akan alat pelacak portofolio yang kompleks. Zapper mencoba beberapa kali untuk bertransformasi, seperti meluncurkan sistem poin berbasis NFT (Chainchat) dan merencanakan protokol dengan token ZAP. Sayangnya, upaya-upaya ini gagal menghasilkan aliran pendapatan yang stabil atau menangkap kebutuhan pasar yang sebenarnya. Analisis menunjukkan Zapper terlalu berfokus pada produk berbiaya tinggi (pelacak portofolio) dan kurang mengembangkan fitur penghasil pendapatan. Mereka juga terjebak dalam "pemikiran blockchain" untuk produk konsumen (2C), mencoba menciptakan kebutuhan baru alih-alih menyelesaikan masalah yang ada. Nasib Zapper menjadi peringatan bagi produk-produk alat DeFi lainnya. Ketika lingkungan pasar berubah, bertahan pada model lama tanpa adaptasi yang cepat dan fokus pada kelayakan ekonomi adalah resep kegagalan. Kesuksesan awal yang didorong tren tidak menjamin kelangsungan jangka panjang.

Foresight News41m yang lalu

Jatuhnya Zapper, Bencana Alam atau Kesalahan Manusia?

Foresight News41m yang lalu

Zuckerberg Mulai Bertaruh pada Pasar Prediksi, Sementara Negara-Negara Asia Masih Menganggapnya Sebagai Perjudian

Inti artikel: Pasar prediksi, yang mengizinkan perdagangan kontrak berbasis hasil suatu peristiwa (misalnya, "Apakah J.D. Vance akan menjadi kandidat presiden Republik 2028?"), telah tumbuh menjadi industri utama dengan volume perdagangan bulanan mencapai $14 miliar. Dukungan dari perusahaan seperti Meta dengan proyek "Arena" semakin mengukuhkan validitasnya. Mekanisme pasar ini sederhana: jika peristiwa terjadi, kontrak diselesaikan senilai $1; jika tidak, $0. Harga perdagangan mencerminkan probabilitas real-time. Akurasi informasi didorong oleh prinsip "skin in the game" di mana peserta rugi jika prediksi salah. Di Barat, pasar ini semakin diintegrasikan ke dalam sistem keuangan formal. Namun, di banyak negara Asia, pasar prediksi masih sering disamakan dengan perjudian tradisional dan dilarang. Pendekatan ini menimbulkan tiga masalah utama: 1) arbitrase regulasi dan aliran keluar modal ke platform lepas pantai, 2) hilangnya kedaulatan informasi karena data sosial yang berharga dikumpulkan di luar negeri, dan 3) kurangnya perlindungan pengguna. Artikel berargumen bahwa Asia perlu mengubah diskusi dari cara memblokir pasar ini menjadi cara memanfaatkan datanya secara bertanggung jawab dalam sistem yang diatur. Regulasi seharusnya berfungsi sebagai saluran penyalur, bukan tembok penghalang, untuk mengintegrasikan inovasi ini secara transparan dan mengembalikan data yang dihasilkan sebagai aset nasional.

marsbit45m yang lalu

Zuckerberg Mulai Bertaruh pada Pasar Prediksi, Sementara Negara-Negara Asia Masih Menganggapnya Sebagai Perjudian

marsbit45m yang lalu

Trading

Spot
活动图片