Skip Silicon Valley? Some Startup-Friendly Countries Are Luring Entrepreneurs Abroad

WSJDipublikasikan tanggal 2023-06-08Terakhir diperbarui pada 2023-06-08

Abstrak

The failure of Silicon Valley Bank in March is among factors that have created a more uncertain environment for startups in the U.S. causing entrepreneurs to consider other markets.



The failure of Silicon Valley Bank in March is among factors that have created a more uncertain environment for startups in the U.S. causing entrepreneurs to consider other markets.
The U.S. may be  a hot spot offering a massive market for startups, but for entrepreneurs who want to launch a new business here, there are a lot of headline-making risks.
Lately, it’s been necessary to consider the debt ceiling, the dollar-reserve currency crisis, and the failure of Silicon Valley Bank and their potential effects on the entrepreneurial ecosystem.
The bank failure, especially, had entrepreneurs considering worst-case scenarios—up to the wholesale loss of deposits or the complete undermining of confidence in U.S. banking. Though neither came to pass, “that doesn’t mean, however, that we have an absence of uncertainty,” says Christopher Opie, Washington D.C.-based managing director and co-head of global families at Bernstein Private Wealth Management (BPWM). “We hear frequently from business owners and investors that confidence and certainty are key.”
This uncertainty takes on added dimensions when considering the rise in alternative markets with friendly environments for startups. 
Shelly Meerovitch, global families co-head at BPWM, suggests that it’s not a decline in American startup culture, but a sharing of the wealth as more countries try to take part in the success the U.S. has experienced. “There is more diversity in jurisdictions that are viable alternatives,” she says. These have especially popped up in the last five years, creating corporate and personal incentives for companies and entrepreneurs to invest abroad.
While neither Meerovitch nor Opie say they have encountered entrepreneurs who leave the U.S. entirely for elsewhere, both say the present era is one where wealthy entrepreneurs, both domestic and foreign, may consider attractive expansion opportunities elsewhere that offer personal tax savings or more compelling chances for growth.
An Israeli entrepreneur with a high-tech product might consider Europe or Singapore as its headquarters instead of jumping straight into the U.S. market, for example, Opie says.
Meerovitch and Opie recently spoke with Penta about the increase in new startup markets and why entrepreneurs might choose to build startups and move their lives abroad instead of defaulting to the U.S.
Growth in Other Markets
Opie says since 2008, American startups have been part of “Boomtown USA” thanks to low interest rates, tons of venture capital and other investing funds. Supporting legislation that reduced regulations for entrepreneurs “snowballed in the best possible way,” he adds.
“Now we’re just looking at a different stage where that same accelerating growth is probably less apparent, and part of that can be explained by the rise of other locations,” he says. There are attempts to build robust regulatory environments that allow entrepreneurs to take risks and are like the entrepreneurial environment in the U.S. but in new locations.
This includes Dubai’s government-led marketing push to become a global blockchain, cryptocurrency, and Web3 center of choice, which includes capital provision aspects. Last month cryptocurrency exchange Coinbase opened a non-U.S. exchange in Bermuda. This follows a state-led initiative to relocate non-insurance businesses to the island nation. 
One bellwether of the recent shift toward this broader growth in startup ecosystems, Opie says, is the international expansion of tech incubator firm Techstars, for which he acts as a mentor. The company once had accelerators only in the U.S. and now counts locations across Asia, Europe, and the Middle East.
Golden Perks
Company-based incentives aren’t the only thing driving entrepreneurs to decide about where to launch their business, says Meerovitch. Personal incentives like golden visas, which offer residency or citizenship options for making real estate or other investments in the nation, also factor in. These visas encourage executives and other wealthy investors and their families to move to countries like Bermuda, Italy, Portugal, and the United Arab Emirates, where they can take advantage of such programs.
“When you couple that with favorable business-side legislation, you really create a great environment for people to consider a move,” she says. Many of these centers offer a very-low or non-existent tax environment. Bermuda, for example, is essentially tax-neutral, she notes.
This incentive is slightly more complicated for U.S. citizens given that they are taxed on worldwide income, even if they move to low-tax jurisdictions.
“While naturally, the first incentive is to grow the business, the second is to maximize the outcome financially speaking for those who own it, including the founders,” Opie adds. “And if you are able to—especially if not a U.S. citizen—play a jurisdictional game and improve the outcome, then you’ll be really tempted to.”
The Post-Peak Startup U.S.
The size of the U.S. market, depth of its talent pool, and the availability of investment capital will remain strong pull factors for global entrepreneurs, despite concerns, Opie says.
U.S. industrial policies are also creating new incentives for American innovators to remain in the country, and encourage foreign innovators to relocate here. He offers, as example, the August 2022 Inflation Reduction Act, which creates funding and tax credits around low-carbon technologies. The legislation could lure entrepreneurs who previously focused attention on France, Germany, and Nordic countries.
“A coordinated national policy for attracting and encouraging entrepreneurs, especially in key sectors, would close the gap with other global entrepreneurship centers,” he adds.

Bacaan Terkait

Huang Renxun: Prompt Sudah Usang, Loop adalah Paradigma Baru

**Ringkasan:** **Prompt Sudah Ketinggalan Zaman, Loop adalah Paradigma Baru.** Menurut Huang Renxun (Jensen Huang), pendiri NVIDIA, tugas utama di era AI sekarang bukan lagi menulis perintah (prompt), tetapi **menulis dan mengelola loop (siklus).** **Apa itu Loop?** Loop adalah sistem di mana Anda mendefinisikan suatu tujuan, dan AI menjalankannya secara mandiri—memeriksa hasil, memperbaiki kesalahan, dan mengulangi proses tersebut hingga tugas selesai atau mencapai batas tertentu. Manusia beralih peran dari "pemberi perintah" menjadi **"perancang aturan" atau "arsitek sistem."** **Loop vs. Agent:** Agent adalah "pekerja" yang menjalankan tugas. Loop adalah **mekanisme pengelolaan** yang memungkinkan Agent bekerja terus-menerus tanpa pengawasan manusia. Agent dengan loop menjadi sistem yang dapat berjalan otomatis. **Contoh Penerapan:** Produk seperti Claude Code (dengan fitur /loop, /goal, /schedule) dan OpenAI Codex telah menerapkan konsep ini. Mereka membagi tugas kompleks ke beberapa Agent yang berjalan paralel di lingkungan terisolasi, dengan model terpisah untuk menulis kode dan memvalidasi hasil, memastikan objektivitas. **Bagaimana Memulai Loop?** 1. **Uji Kelayakan:** Pastikan tugas berulang, dapat divalidasi otomatis, dan anggaran token mencukupi. 2. **Mulai dari Loop Minimal:** Bangun sistem dengan pemicu otomatis, keterampilan (skill), file status (STATE.md), dan "gerbang" validasi (seperti pengujian). 3. **Pisahkan Pemeriksa dan Pelaksana:** Gunakan model atau Agent berbeda untuk menulis kode dan memeriksa/mengujinya. Ini kunci untuk kualitas. 4. **Hindari Jebakan Umum:** Tetapkan batas pengulangan dan token, simpan status, hindari tugas yang membutuhkan pertimbangan manusia, dan tetap tinjau perubahan kode (diff). 5. **Ukur Efektivitas:** Metrik utama adalah **biaya rata-rata per perubahan yang diterima.** **Evolusi Paradigma:** Perkembangan AI menunjukkan pergeseran berkelanjutan: 1. **Prompt Engineering** (2023-2024): Fokus pada cara menulis perintah. 2. **Context Engineering** (2024-2025): Fokus pada informasi dan latar belakang yang diberikan ke AI. 3. **Harness Engineering** (2025-2026): Fokus pada lingkungan eksekusi dimana AI dapat menggunakan alat dan sumber daya. 4. **Loop Engineering** (sekarang): Fokus pada merancang sistem siklus otomatis yang berjalan mandiri. Konsep loop memiliki akar akademis, seperti dalam framework **ReAct** (Reasoning + Acting) yang dikembangkan oleh Yao Shunyu dkk., yang menggabungkan penalaran dan tindakan dalam sebuah siklus. **Catatan Penting:** Meskipun menjanjikan, teknologi ini masih awal. Perlu kehati-hatian terhadap biaya token dan kompleksitas. Seperti dikutip Andrej Karpathy, **"Anda dapat mengalihdayakan pemikiran Anda, tetapi Anda tidak dapat mengalihdayakan pemahaman Anda."** Pemahaman mendalam tentang masalah tetap berada di tangan manusia.

marsbit52m yang lalu

Huang Renxun: Prompt Sudah Usang, Loop adalah Paradigma Baru

marsbit52m yang lalu

GPT Merancang GPT

OpenAI akhirnya merilis chip pertamanya, Jalapeño. Meski banyak yang menganggapnya sebagai tantangan bagi Nvidia, inti dari langkah ini justru adalah pengakuan terbuka OpenAI bahwa mereka tidak puas hanya menjadi perusahaan model AI. Mereka ingin mengontrol seluruh proses produksi kecerdasan, dari model, chip, hingga pusat data dan energi. Perbedaan kemampuan model semakin menyempit, namun kesenjangan dalam komputasi justru melebar. Dalam era AI, satuan biaya terpenting bukan lagi harga server atau GPU, melainkan biaya produksi setiap Token. Sebagai penyedia layanan seperti ChatGPT dan API, OpenAI menghadapi kenyataan bahwa semakin sukses produk mereka, semakin besar "pajak inferensi" yang harus dibayarkan ke penyedia hardware eksternal. Jalapeño adalah upaya membangun "pabrik Token" sendiri untuk mengurangi ketergantungan ini. Yang menarik, siklus pengembangan chip Jalapeño hanya sembilan bulan, jauh lebih cepat dari standar industri. Kunci percepatan ini adalah pengetahuan OpenAI tentang beban kerja model nyata. Mereka bahkan menggunakan model AI mereka sendiri untuk mempercepat bagian proses desain dan optimasi chip. Ini menciptakan siklus umpan balik: model yang lebih baik membantu mendesain chip yang lebih baik, yang kemudian menurunkan biaya menjalankan model generasi berikutnya. Jalapeño difokuskan untuk inferensi, bukan pelatihan. Inferensi adalah pengeluaran tunai harian yang masif, terutama dengan berkembangnya Agent dan tugas-tugas rantai panjang. Dengan mengurangi "pajak inferensi" ini, OpenAI dapat meningkatkan margin keuntungan layanannya. Strategi OpenAI semakin mirip dengan Apple: membangun ekosistem tertutup yang terintegrasi, dari model (perangkat lunak intelijen), antarmuka seperti ChatGPT, hingga chip dan infrastruktur fisik. Mereka tidak ingin menjual "sekop" (seperti Nvidia), tetapi memiliki "tambang" dan menjual "kecerdasan" yang dihasilkannya. Pada akhirnya, artikel ini menyimpulkan bahwa aset terpenting di era AI sedang bergeser. Model akan terus berubah seperti "aliran traffic," tetapi infrastruktur produksi—chip, jaringan, pusat data, energi—akan menjadi "tanah" yang dikuasai oleh sedikit pemain. Dengan Jalapeño, OpenAI menyatakan ambisinya: tidak hanya menjadi perusahaan paling cerdas, tetapi mengontrol produksi kecerdasan itu sendiri.

marsbit1j yang lalu

GPT Merancang GPT

marsbit1j yang lalu

Direktur Eksekutif Sementara Yayasan Ethereum Bicara: Apa Misi Kami?

**Misi Ethereum Foundation (EF): Memperkuat Otonomi dan Ketahanan Ethereum** Ethereum Foundation (EF) secara resmi mendefinisikan misinya: memastikan Ethereum tetap sebagai infrastruktur *permissionless* yang menjamin kedaulatan diri—tahan sensor, terbuka, pribadi, dan aman. Ini adalah jawaban final atas pertanyaan tentang tujuan EF. **Apa yang BUKAN Tujuan EF:** EF bukan untuk kepentingan jangka pendek, popularitas, menyenangkan spekulan, atau menciptakan lembaga keuangan besar yang baru. **Inti Tindakan EF: Mengatasi Kelemahan** EF berfokus memperkuat Ethereum di semua lapisan (protokol, akses, pengguna, kelembagaan) untuk mencegah eksploitasi, kontrol kartel, atau pengawasan otoritatif. Tindakan konkret meliputi: 1. **EF Memimpin dengan Contoh:** Beralih ke gaji dan transaksi dalam ETH/stablecoin asli Ethereum untuk merasakan tekanan produk secara langsung. 2. **Melawan MEV Berbahaya:** Melindungi netralitas Ethereum dengan memerangi *Maximum Extractable Value* (MEV) yang merusak di alur transaksi, mencegah monopoli pembangun blok, dan meningkatkan transparansi. 3. **Prioritas Privasi:** Privasi default yang kuat adalah kebutuhan mutlak. Buku besar publik tanpa privasi adalah platform pengawasan. Ethereum harus menawarkan privasi tanpa syarat terlebih dahulu. 4. **Staking sebagai Infrastruktur:** Staking bukan sekadar produk hasil. EF akan mendukung desain agar staking tetap *permissionless*, terdesentralisasi, dan pribadi, mencegah konsentrasi risiko. 5. **Antarmuka Akses yang Otonom:** Fokusnya adalah membuat pengguna (individu & institusi) lebih mandiri dan kurang rentan terhadap paksaan, bukan mengorbankan nilai inti Ethereum untuk adopsi. **Memanfaatkan Peluang:** EF juga akan membangun masa depan dengan mengejar peluang seperti: * Menjadi infrastruktur global pertama yang tahan serangan kuantum. * Menciptakan tumpukan protokol yang sepenuhnya terverifikasi dan otonom tanpa celah. * Menjadikan Ethereum sebagai "uang digital biasa" yang pribadi dan bermartabat. * Mengintegrasikan agen AI dengan dompet pribadi yang dijalankan pengguna, mempertahankan kedaulatan atas aset dan model. * Membuktikan bahwa infrastruktur netral dapat menangani koordinasi skala besar secara kompetitif untuk aplikasi institusional. * Skalabilitas yang mempertahankan jaminan otonomi. **Tata Kelola Internal:** Artikel juga menyentuh perubahan internal EF, termasuk kepergian beberapa staf dan spin-off proyek tertentu, yang dilakukan untuk menyelaraskan kembali organisasi dengan misi intinya. EF akan mendanai pekerjaan eksternal hanya jika sangat penting dan selaras dengan misi memperkuat otonomi Ethereum, bukan untuk sekadar melanjutkan proyek atau menjaga hubungan. Kesimpulannya, EF berkomitmen penuh untuk membangun Ethereum sebagai infrastruktur netral yang tangguh dan berumur panjang, yang mampu mendukung koordinasi otonom dalam skala besar untuk peradaban masa depan.

marsbit1j yang lalu

Direktur Eksekutif Sementara Yayasan Ethereum Bicara: Apa Misi Kami?

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片