Investigasi 'Kutukan Listing' Exchange: Mengapa 89% Token Baru Akhirnya Menjadi Mesin Pencincang Uang Retail?

marsbitDipublikasikan tanggal 2026-03-26Terakhir diperbarui pada 2026-03-26

Abstrak

Studi "Kutukan Listing Exchange": Mengapa 89% Token Baru Akhirnya Jadi Mesin Penuai Uang Investor Retail? Analisis tahun 2025 mengungkap fakta mengejutkan: 89-94% token yang terdaftar di Binance mengalami penurunan nilai signifikan, dengan rata-rata penarikan sekitar 71-80%. Sebelumnya, listing di Binance dianggap sebagai pencapaian penting, namun kini sering kali hanya menjadi ajang likuiditas bagi investor awal untuk mengambil keuntungan. Penyebab utama kegagalan ini meliputi: 1. Likuiditas internal - tim dan investor awal melakukan profit taking secara besar-besaran 2. Valuasi berlebihan - valuasi tinggi tidak didukung basis pengguna yang kuat 3. Aliran dana pasar yang lemah - fokus utama tetap pada BTC dan ETH 4. Lebih mengutamakan narasi daripada produk - banyak proyek fokus pada pemasaran bukan pengembangan 5. Kejenuhan pasar - lebih dari 11 juta token diluncurkan pada 2025 Listing di Binance kini lebih menjadi ajang exit liquidity bagi internal proyek daripada peluang kekayaan bagi investor retail. Hanya proyek dengan produk nyata dan komunitas kuat yang dapat bertahan.

Penulis: Gilmo

Kompilasi: Yuliya, PANews

Mengapa banyak token yang listing di Binance gagal?

Baru-baru ini saat menjelajahi X atau komunitas kripto, Anda mungkin tidak asing dengan fenomena "listing exchange langsung anjlok". Hari-hari di mana listing di Binance berarti "melonjak ke bulan" tampaknya sudah menjadi masa lalu. Sebagai gantinya, komunitas dihebohkan dengan "kutukan listing", di mana banyak investor menyaksikan dana akun mereka menguap setiap hari, dengan perasaan hancur.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar?

I. Ikhtisar

Tahun 2025 mengungkapkan realitas yang kejam. Sebagian besar token yang listing di Binance Spot kesulitan mempertahankan nilainya.

89% token yang listing di Binance pada tahun 2025 memiliki return negatif.

+ Kinerja Harga

Sekitar 89% hingga 94% token yang baru listing mengalami kerugian parah. Rata-rata penurunan harga setelah listing berkisar antara 71% hingga 80%. Banyak token tidak mengalami crash yang dramatis, melainkan menunjukkan pola penurunan yang lambat, harga perlahan turun seiring waktu, secara diam-diam menggerus modal.

+ Reputasi

Listing di Binance dulunya merupakan pencapaian penting. Kini, listing biasanya dilihat sebagai peristiwa likuiditas bagi investor awal untuk mengambil keuntungan. Karena tekanan jual yang besar setelah listing, banyak trader bahkan menyebutnya sebagai "zona keluar untuk retail".

+ Siklus Perhatian

Sebagian besar proyek mendapatkan perhatian yang sangat tinggi dalam beberapa hari pertama. Namun setelah itu, minat dengan cepat menurun. Tanpa produk nyata atau permintaan pengguna, momentum ini akan cepat memudar.

+ Operasional

Beberapa proyek melambat perkembangannya setelah mencapai milestone listing. Aktivitas yang lemah dan likuiditas yang rendah kemudian menyebabkan mereka di-delist dari exchange.

Contoh: A2Z, FORTH, HOOK, IDEX, LRC, NTRN, RDNT, SXP

Pada awal 2026: ACA, CHESS, DATA juga telah di-delist

Jelas, Binance tidak lagi mendukung proyek-proyek yang berkinerja lemah.

II. Kategori Listing

Pada tahun 2025, Binance melisting 87 proyek, mencakup 16 sektor.

+ Jaringan

Ethereum mendominasi dengan sekitar 36%, diikuti oleh BNB Chain dan Solana.

Perlu dicatat, Binance telah mulai mendukung ekosistem yang sangat baru seperti Nillion dan 0G Labs, tetapi karena kurangnya pengguna nyata, ini juga merupakan kelompok berisiko tinggi.

+ Sektor

DeFi memimpin dengan 18 proyek, diikuti oleh AI dan Infrastruktur.

Sektor yang digerakkan tren seperti Memes dan RWA dapat mendapatkan kesempatan listing dengan cepat, tetapi karena kurangnya produk inti, tingkat kegagalan mereka juga lebih tinggi.

III. Lalu Mengapa Token-Token Ini Gagal?

Ada beberapa faktor kunci yang dapat menjelaskan pola ini.

1. Peristiwa Likuiditas Insider

Listing menciptakan likuiditas yang dalam. Hal ini memungkinkan tim dan investor awal untuk merealisasikan keuntungan. Pemburu airdrop juga akan segera menambah tekanan jual setelah listing.

2. Valuasi Terlalu Tinggi

Beberapa proyek diluncurkan dengan valuasi miliaran dolar, tetapi basis pengguna yang kecil. Kesenjangan antara valuasi dan penggunaan aktual memberikan tekanan berat pada harga.

3. Aliran Dana Pasar yang Lemah

Selama tahun 2025, dana terkonsentrasi terutama di sekitar BTC dan ETH. Altcoin baru mendapatkan aliran dana yang terbatas dan singkat.

4. Lebih Bercerita Daripada Produk

Banyak tim menginvestasikan banyak dana dalam bercerita dan pemasaran. Sedangkan perkembangan produk nyata berjalan lambat. Begitu hype awal mereda, minat pengguna langsung anjlok.

5. Kejenuhan Pasar

Tahun 2025 meluncurkan lebih dari 11 juta token. Pasokan meningkat dengan cepat, sementara perhatian pengguna tetap terbatas. Hanya mengandalkan listing exchange tidak lagi mampu mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

IV. Kesimpulan

Pada periode 2025 hingga 2026, listing token di Binance akan lebih mirip dengan putaran akhir bagi insider proyek untuk menjual kepemilikan mereka, daripada peluang bagi investor retail untuk menjadi kaya.

Hanya proyek dengan produk nyata dan komunitas yang kuat yang memiliki peluang untuk bertahan.

Anda dapat merujuk ke daftar @defikadic untuk mengetahui proyek-proyek berkualitas sebenarnya:

Pertanyaan Terkait

QMengapa 89% token baru yang diluncurkan di Binance pada tahun 2025 mengalami penurunan harga?

ASebanyak 89% token baru di Binance pada 2025 memiliki return negatif karena tekanan jual dari investor awal, valuasi berlebihan, aliran dana pasar yang lemah, fokus pada narasi ketimbang produk, dan kejenuhan pasar dengan lebih dari 11 juta token diluncurkan.

QApa yang dimaksud dengan 'kutukan peluncuran' (launch curse) dalam konteks token kripto?

A'Kutukan peluncuran' merujuk pada fenomena di mana token yang baru diluncurkan di exchange seperti Binance justru mengalami penurunan harga signifikan, sering kali menjadi momen likuiditas bagi investor awal untuk mengambil untung dan meninggalkan investor ritel dengan kerugian.

QFaktor apa saja yang menyebabkan kegagalan token setelah diluncurkan di Binance?

AFaktor kegagalan meliputi: likuiditas dari insider, valuasi terlalu tinggi tanpa basis pengguna kuat, aliran dana terbatas ke altcoin baru, lebih mengutamakan narasi daripada pengembangan produk, serta kejenuhan pasar akibat jumlah token yang berlebihan.

QBagaimana perubahan persepsi komunitas terhadap peluncuran token di Binance?

APeluncuran di Binance yang sebelumnya dianggap sebagai momentum 'lambung ke bulan' kini dipandang sebagai 'zona keluar untuk investor ritel' (retail exit zone), di mana tekanan jual besar terjadi dan sering berakhir dengan kerugian bagi pemegang token.

QJenis proyek apa yang memiliki peluang bertahan setelah peluncuran di Binance?

AHanya proyek dengan produk nyata dan komunitas yang kuat yang dapat bertahan, karena Binance tidak lagi mendukung proyek yang performanya lemah dan akan mendelist token yang tidak aktif atau tidak likuid.

Bacaan Terkait

Menurunkan Ekspektasi untuk Bull Market Bitcoin Berikutnya

Artikel ini membahas penurunan ekspektasi penulis terhadap potensi kenaikan harga Bitcoin (BTC) pada siklus bull market berikutnya. Penulis, Alex Xu, yang sebelumnya memegang BTC sebagai aset terbesarnya, telah mengurangi porsi BTC dari full menjadi sekitar 30% pada kisaran harga $100.000-$120.000, dan kembali mengurangi di level $78.000-$79.000. Alasan utama penurunan ekspektasi ini adalah: 1. **Energi Penggerak yang Melemah:** Narasi adopsi BTC yang mendorong kenaikan signifikan di siklus sebelumnya (dari aset niche hingga institusi besar via ETF) sulit terulang. Langkah berikutnya, seperti masuknya BTC ke dalam cadangan bank sentral negara maju, dianggap sangat sulit tercapai dalam 2-3 tahun ke depan. 2. **Biaya Peluang Pribadi:** Penulis menemukan peluang investasi yang lebih menarik di perusahaan-perusahaan lain. 3. **Dampak Resesi Industri Kripto:** Menyusutnya industri kripto secara keseluruhan (banyak model bisnis seperti SocialFi dan GameFi terbukti gagal) dapat memperlambat pertumbuhan basis pemegang BTC. 4. **Biaya Pendanaan Pembeli Utama:** Perusahaan pembeli BTC terbesar, Stratis, menghadapi kenaikan biaya pendanaan yang memberatkan, yang dapat mengurangi kecepatan pembeliannya dan memberi tekanan jual. 5. **Pesaing Baru untuk "Emas Digital":** Hadirnya "tokenized gold" (emas yang ditokenisasi) menawarkan keunggulan yang mirip dengan BTC (seperti dapat dibagi dan dipindahkan) sehingga menjadi pesaing serius. 6. **Masalah Anggaran Keamanan:** Imbalan miner yang terus berkurang pasca halving menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan jaringan, sementara upaya mencari sumber fee baru seperti ordinals dan L2 dinilai gagal. Penulis menyatakan tetap memegang BTC sebagai aset besar dan terbuka untuk membeli kembali jika alasannya tidak lagi relevan atau muncul faktor positif baru, meski siap menerima jika harganya sudah terlalu tinggi untuk dibeli kembali.

marsbit04/27 02:47

Menurunkan Ekspektasi untuk Bull Market Bitcoin Berikutnya

marsbit04/27 02:47

Trading

Spot
Futures
活动图片