Here's how the CFTC could prevent the next FTX

CoinDeskDipublikasikan tanggal 2022-11-18Terakhir diperbarui pada 2022-11-21

Abstrak

The Commodity Futures Trading Commission should be responsible for preventing companies like FTX from taking root in the future.

FTX declared bankruptcy this month with $900 million in assets against $9 billion in liabilities. Its founder and former CEO, Sam Bankman-Fried, is being questioned by police in the Bahamas, and many customers are unable to withdraw their deposits. Its holdings of Serum’s SRM, a token Bankman-Fried developed, dropped from a value of more than $2 billion to less than $100 million. Things got worse over the weekend after FTX was apparently hacked, leading to the loss of an additional several hundred million. Some commentators are already calling it cryptocurrency’s “Lehman moment,” referring to the 2008 collapse of Lehman Brothers that signaled we were in a financial crisis.

In the wake of this epic collapse, Congress should get its head out of the sand and pass the Digital Commodities Consumer Protection Act designating the Commodity Futures Trading Commission, or CFTC, to regulate the crypto industry. The agency, which regulates commodities and derivatives trading, has already taken on a role in regulating crypto, sharing duties with the Securities and Exchange Commission, or SEC. Both agencies are on shaky ground, as no legislation designates either as an enforcement agency or defines whether crypto is a security or a derivative. Both have launched probes into FTX’s handling of customer accounts.

Federal crypto regulation is currently conducted through enforcement actions — lawsuits, fines and audits conducted after an event. But these actions are dependent on the agency’s ability to make a case. As a result, it isn’t always clear what rules are being enforced. Moreover, many actions resulting in crackdowns on crypto firms are legal for traditional firms under certain circumstances. Granting statutory authority to a sole regulator would give the industry clarity and stability. The CFTC is preferable because Chairman Rostin Behnam is perceived as friendlier to the industry than SEC Chair Gary Gensler.

Many of the activities that went on between FTX and Alameda Research that got the firms in trouble were either already illegal or highly regulated for firms dealing in conventional securities or derivatives, and the lack of clear rules in the United States encourages companies to set up shop in countries with little oversight, so risky practices had no consequences until the collapse. Some commentators have compared FTX’s balance sheet to the creative accounting that resulted in the collapse of Enron in 2001.

In particular, its practice of inventing tokens and then basing the value of its own holdings on the value of the small number it sold was similar to Enron’s mark-to-market accounting. FTX issued various tokens, including SRT and FTX Token (FTT), bought some from itself, then used that price to set their valuations. The stock of tokens was then listed as an asset on FTX’s balance sheets or deposited with sister company Alameda Research, an investment firm, to use as collateral.

About $14.4 billion of FTX’s $19.6 billion in assets before last week were represented by coins and tokens FTX created, while just $5.2 billion was in conventional assets. Customer liabilities totaled about $9 billion. Moreover, FTX lent around (at least) $10 billion of its depositors’ money to Alameda. It went under, nonetheless.

Officials such as Treasury Secretary Janet Yellen are already calling for greater regulation to prevent another FTX-style crash. Yellen said the collapse “shows the weakness of this entire sector.”

Agencies like the SEC and CFTC ensure compliance with regulations by requiring firms to report on their activities regularly, by investigating tips from whistleblowers, and, when all else fails, with enforcement actions that can involve fines, lawsuits or getting a judge to subpoena companies’ records. Since the Enron scandal, accounting firms also have compliance they need to conduct. Destroying documents is a federal crime. Most importantly, the agencies have rules on how securities and commodities can be marketed to the general public, with some being restricted to only firms, individuals with specific attainments like certified financial analysts, and “accredited investors” — people wealthy enough they’re regarded as knowing what they’re doing.

One of the consequences is that prospectuses must be clear on actual risks and expected returns, and ones that are too optimistic can indicate an attempt to defraud people. For instance, Alameda Research reportedly promised investors annual returns of 15% with no risk — an impossibility that would have alerted U.S. regulators when it was made in 2018.

CFTC Chairman Behnam has said that the SEC and CFTC are capable of working together to regulate crypto, but designating one regulator would help clear up confusion immediately and avoid jurisdictional conflicts or institutional “siloing” that could prevent the agencies from communicating with each other.

Quality, sensible reforms will be key to restoring confidence in crypto firms and preventing future problems from spiraling out of control.

Bacaan Terkait

Mandat Keamanan Pasca-Kuantum Donald Trump 2031 Memicu Upaya Peningkatan Kripto yang Mendesak

Presiden AS Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk meningkatkan kesiapan negara dalam menghadapi kemajuan komputasi kuantum. Perintah ini menetapkan tenggat waktu ketat bagi lembaga federal untuk meningkatkan teknologi kriptografinya menjadi tahan kuantum. Melalui Perintah Eksekutif 14409, sistem penting pemerintah harus ditingkatkan paling lambat Desember 2030, sementara semua infrastruktur tanda tangan digital federal harus bermigrasi ke standar pasca-kuantum pada Desember 2031. Gedung Putih menyoroti ancaman operasi "panen sekarang, dekripsi nanti", di mana data terenkripsi pemerintah dan perusahaan dapat dikumpulkan sekarang dan didekripsi di masa depan menggunakan komputer kuantum. Untuk mempercepat upaya, Departemen Perdagangan dan NIST ditugaskan memulai program pilot migrasi. Arahan ini menarik perhatian besar industri kripto, karena jaringan blockchain sangat bergantung pada kriptografi kurva eliptik yang rentan. Kemajuan dari Google Quantum AI telah mengurangi sumber daya yang dibutuhkan untuk menyerang sistem kriptografi. Blockchain seperti Ethereum, Algorand, dan Ripple telah merencanakan peningkatan ke skema tanda tangan tahan kuantum. Tekanan tambahan ada pada Bitcoin karena jutaan koin disimpan di alamat lama yang kunci publiknya terpapar. Panduan Gedung Putih menekankan pentingnya migrasi ke arsitektur pasca-kuantum untuk keamanan jangka panjang.

TheNewsCrypto3m yang lalu

Mandat Keamanan Pasca-Kuantum Donald Trump 2031 Memicu Upaya Peningkatan Kripto yang Mendesak

TheNewsCrypto3m yang lalu

Wawasan Mendalam: Inference Terdesentralisasi Bukan Hype, Melainkan Arena Kunci untuk Menembus Monopoli AI Terpusat

**Wawasan Mendalam: Inferensi Terdesentralisasi Bukan Hanya Hype, Tapi Jalur Kunci untuk Membobol Monopoli AI Terpusat** Artikel ini membahas pentingnya inferensi AI terdesentralisasi sebagai perlawanan terhadap risiko sensor dan monopoli oleh entitas terpusat. Penulis menyajikan skenario hipotetis di mana model AI mutakhir seperti "GLM-6" bisa dilarang oleh pemerintah, menyebabkan platform cloud besar mematuhinya. Di sinilah jaringan inferensi terdesentralisasi berperan, karena tidak ada otoritas pusat yang bisa mematikan seluruh jaringan atau menyensor model yang sudah tersebar. Artikel menguraikan empat tantangan utama yang harus dipecahkan: 1. **Menjalankan model yang terlalu besar untuk satu mesin:** Solusinya adalah dengan *GPU swarm* dan teknik seperti *speculative decoding* untuk mencapai kecepatan yang layak, meski latensi jaringan tetap menjadi hambatan dibanding pusat data. 2. **Membuktikan keaslian model yang dijalankan:** Berbagai metode seperti ZKML, *opML*, dan *live-weight proofs* ditawarkan dengan pertukaran (*trade-off*) antara integritas, latensi, dan biaya. 3. **Melindungi kerahasiaan *prompt*:** Teknik sharding saja tidak menjamin privasi. Solusi yang lebih kuat diperlukan, seperti *Trusted Execution Environments* (TEE) atau *Fully Homomorphic Encryption* (FHE). 4. **Membangun pasar dua sisi yang berkelanjutan:** Menemukan pelanggan ideal selain pengguna crypto adalah tantangan bisnis. Start-up dan *AI agent* disebut sebagai calon pengguna potensial. Beberapa proyek utama yang diulas antara lain Dolphin Network (dengan *live-weight proofs*), Inference.net, Morpheus (menggunakan TEE), dan Darkbloom (untuk hardware Apple). Artikel juga membedakan kasus penggunaan: inferensi terdesentralisasi cocok untuk tugas berorientasi *throughput* (seperti pembuatan data sintetis), sementara tugas yang membutuhkan latensi rendah masih lebih unggul di pusat data. Kesimpulannya, inferensi terdesentralisasi adalah bidang yang penting dengan potensi nyata, bukan hanya hype. Kunci suksesnya terletak pada proyek yang secara jelas memecahkan tantangan teknis, memahami pasar, dan menawarkan nilai (biaya, kinerja, privasi) di luar sekadar token.

Foresight News5m yang lalu

Wawasan Mendalam: Inference Terdesentralisasi Bukan Hype, Melainkan Arena Kunci untuk Menembus Monopoli AI Terpusat

Foresight News5m yang lalu

Pertama Kali Warsh Memimpin FOMC: Fed Memberikan Lebih Sedikit Panduan Suku Bunga, Apakah Obligasi AS Akan Lebih Mahal?

Ketua baru Federal Reserve AS, Kevin Warsh, dalam pertemuan FOMC pertamanya pada 16-17 Juni, memilih untuk mengurangi panduan mengenai arah suku bunga di masa depan. The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3.50%-3.75%, namun pernyataan resmi menghapus sebagian panduan dan Warsh sendiri tidak menyampaikan proyeksi 'dot plot'-nya. Perubahan ini meningkatkan ketidakpastian bagi pasar obligasi. Tanpa 'dot plot' dari ketua dan petunjuk yang lebih jelas, investor perlu mengompensasi risiko kesalahan dalam menafsirkan kebijakan, yang berpotensi mendorong imbal hasil obligasi AS lebih tinggi. Yield obligasi pemerintah AS 2-tahun telah naik ke level tertinggi dalam 16 bulan, mencerminkan penyesuaian pasar terhadap lingkungan komunikasi yang kurang terprediksi ini. Warsh berpendapat bahwa panduan yang berlebihan dapat menciptakan 'ruang gema' di mana pasar hanya fokus pada isyarat The Fed, bukan kondisi ekonomi yang mendasarinya. Sebagian investor menyambut baik peningkatan volatilitas ini karena dapat mengurangi spekulasi dan menciptakan peluang perdagangan baru. Alat komunikasi seperti panduan depan dan 'dot plot' diperkenalkan di era suku bunga rendah pasca krisis. Di lingkungan suku bunga tinggi saat ini, Warsh menilai alat-alat itu perlu ditinjau ulang agar The Fed memiliki fleksibilitas kebijakan yang lebih besar. Meskipun perubahan penuh belum diumumkan, langkah awal ini menandai pergeseran menuju komunikasi The Fed yang lebih sedikit memberi 'petunjuk jalan', yang akan membuat data ekonomi dan komentar pejabat lebih berpengaruh terhadap pasar dan biaya pinjaman.

marsbit13m yang lalu

Pertama Kali Warsh Memimpin FOMC: Fed Memberikan Lebih Sedikit Panduan Suku Bunga, Apakah Obligasi AS Akan Lebih Mahal?

marsbit13m yang lalu

Potongan Terakhir Ambisi Kripto Franklin Templeton

Franklin Templeton mengumumkan pada 22 Juni bahwa mereka telah menyelesaikan akuisisi terhadap 250 Digital dan secara resmi mendirikan divisi manajemen aset kripto, Franklin Crypto. Divisi baru ini akan fokus pada penyediaan strategi kripto yang dikelola secara aktif untuk investor institusional. Perkembangan ini melengkapi peta ambisi kripto Franklin Templeton, yang telah dimulai sejak 2018 dengan membentuk tim aset digital. Jejak mereka meliputi peluncuran dana bersama tokenisasi pertama di AS (BENJI) pada 2021, serangkaian ETF spot untuk aset seperti Bitcoin (EZBC), Ethereum (EZET), XRP (XRPZ), dan Solana (SOEZ), serta ETF indeks kripto (EZPZ). Dengan Franklin Crypto, portofolio mereka kini mencakup tiga lapisan: dana tokenisasi, ETF pasif, dan strategi manajemen aktif. Hingga Mei 2026, Franklin Templeton mengelola aset sekitar $1,78 triliun, dengan divisi aset digitalnya mengelola sekitar $1,8 miliar. Langkah mereka juga melibatkan investasi dan kemitraan di ekosistem yang lebih luas, seperti Ethena dan Crossmint, serta kolaborasi dengan jaringan seperti Aptos dan Sui. Sebagai perbandingan, raksasa aset tradisional lain seperti Fidelity Investments mengambil jalur yang sedikit berbeda, lebih menekankan pada pembangunan infrastruktur kustodian dan perdagangan internal sejak awal. Namun, kedua institusi tersebut mencerminkan tren yang sama: penetrasi mendalam dari manajer aset tradisional ke dalam bidang kripto.

Foresight News32m yang lalu

Potongan Terakhir Ambisi Kripto Franklin Templeton

Foresight News32m yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片