US and South Korea Set to Share Data on the Terra-Luna Meltdown

CryptoPotatoDipublikasikan tanggal 2022-07-07Terakhir diperbarui pada 2022-07-07

Abstrak

The latest cross-border partnership will focus on probing crypto and other financial crimes.

In the aftermath of Terra’s historic debacle, regulatory scrutiny targetting the stablecoin industry through cooperative measures across borders has become urgent to authorities worldwide. According to a recent report, South Korean Justice Minister Han Dong-hoon has discussed with US officials potentially enhancing cooperation in fighting against security fraud and financial crimes.
Strengthening Ties on Crypto Regulations
Han Dong-hoon met chief officials from the US Securities and Commodities Task Force during a visit to New York on Tuesday, nodding for a cooperative investigation with the US agencies on the potential crimes involved in Terra’s collapse.
The partnership aims to strengthen information exchange across borders, doubling down investigative efforts on crypto and other financial crimes. In particular, Terra – the project being probed in both countries – is under the spotlight again:
“The two sides also agreed to share their latest investigation data on ongoing crypto cases, including the high-profile case surrounding the meltdown of stablecoin TerraUSD and its digital coin counterpart, Luna.”
The fall of Terra has caught legal scrutiny from global authorities. Last month, Korean prosecutors launched an investigation on the team, looking into possible fraud charges and market manipulation. Reportedly, a key member of the group was even banned from leaving the country.
Meanwhile, the SEC – the top US securities watchdog – expanded its scope of investigation on the Terra-based DeFi platform Mirror Protocol. The regulatory entity believed the protocol could have violated the Securities Act by offering investors to transact tokenized versions of popular stocks like Tesla and Airbnb.
In addition, the agency also looked into if the co-founder and CEO of Terra – Do Kwon – had violated the investor-protection regulations when he promoted UST and Luna before they collapsed.
Cross-Border Partnerships
Last week, the UK and US issued a joint statement on strengthening regulatory outcomes for digital assets across jurisdictions. Both authorities expressed concerns regarding the role of stablecoins and crypto-asset trading and lending platforms as the broader market downturn has revealed issues rooted in some problematic projects.
This came in the wake of crypto firms falling apart largely due to overly leveraging their existing assets during the bull market. As the bear market hits the industry, some have to file bankruptcy or claim insolvency as their debts pile up and their crypto positions get liquidated.

Bacaan Terkait

BlackRock Luncurkan ETF Bitcoin Covered-Call dengan Ticker BITA

BlackRock telah meluncurkan iShares Bitcoin Premium Income ETF (BITA), menambahkan lapisan baru pada lini produk bitcoinnya. Tidak seperti reksa dana spot bitcoin biasa, BITA dirancang untuk menghasilkan pendapatan dengan menggunakan strategi opsi covered-call yang terhubung dengan eksposur bitcoin dan iShares Bitcoin Trust (IBIT). Strategi ini menawarkan cara berbeda bagi investor untuk mendapatkan eksposur bitcoin. Alih-alih hanya memegang aset dan menunggu apresiasi harga, BITA bertujuan mengumpulkan premi opsi dan mendistribusikan pendapatan bulanan. Produk ini mungkin menarik bagi investor yang menginginkan hasil berbasis kripto tanpa langsung menggunakan protokol DeFi atau produk pinjaman lepas pantai. Dengan strategi covered-call, investor menerima pendapatan premi tetapi mengorbankan sebagian keuntungan jika harga bitcoin melonjak tajam di atas harga kesepakatan opsi. Ini menjadikan BITA menarik di pasar yang bergerak sideways atau bergejolak, tetapi mungkin tertinggal dari kinerja spot murni saat terjadi breakout. Peluncuran BITA menunjukkan pasar ETF bitcoin berkembang melampaui produk spot sederhana, menuju strategi yang lebih beragam seperti penghasilan premi dan integrasi portofolio. Produk ini terutama ditujukan bagi investor yang sudah menerima tesis bitcoin tetapi menginginkan produk berorientasi pendapatan yang lebih halus dalam akun pialang, atau bagi penasihat keuangan yang ingin membahas eksposur bitcoin tanpa hanya mengandalkan apresiasi harga. Penting bagi investor untuk memahami pertukaran risiko-imbal hasil ini sebelum membandingkan kinerjanya dengan bitcoin.

bitcoinist53m yang lalu

BlackRock Luncurkan ETF Bitcoin Covered-Call dengan Ticker BITA

bitcoinist53m yang lalu

Jepang Naikkan Suku Bunga, Mengapa Seluruh Dunia Merasa Cemas?

Bank sentral Jepang menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1% pada Juni 2026, tingkat pertama kali dalam 1% sejak 1995. Meski angka ini masih rendah dibandingkan AS dan Eropa, kenaikan ini sangat diperhatikan pasar global karena menandai perubahan mendasar dari kebijakan suku bunga ultra-rendah yang berlangsung selama tiga dekade. Inti kekhawatiran global terletak pada peran Jepang sebagai "pusat pendanaan berbiaya terendah global." Selama lebih dari 20 tahun, investor internasional meminjam yen dengan biaya hampir nol untuk berinvestasi di aset berimbal hasil tinggi di seluruh dunia (saham AS, obligasi emerging market, dll.), menciptakan "carry trade" yen. Praktik ini menjadi sumber likuiditas murah penting yang mendorong kenaikan harga aset global. Kini, kenaikan suku bunga Jepang mengancam logika fundamental ini. Biaya pinjaman yen yang meningkat memaksa investor global mengevaluasi ulang dan berpotensi mengurangi posisi leverage mereka, yang dapat memicu kontraksi likuiditas dan volatilitas di pasar keuangan global. Pasar tidak terlalu khawatir dengan level bunga 1%, tetapi lebih pada perubahan tren dan runtuhnya konsensus bahwa "Jepang akan selamanya menyediakan uang murah." Faktor pendorong kenaikan suku bunga antara lain: inflasi yang bertahan di atas target 2%, kenaikan upah berkelanjutan ("siklus positif upah-inflasi"), dan tekanan pada yen yang melemah. Namun, arah akhir aliran modal global tetap akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan The Fed AS. Jika AS mulai menurunkan suku bunga sementara Jepang menaikkan, penyempitan selisih suku bunga AS-Jepang dapat berdampak lebih besar pada pasar.

marsbit2j yang lalu

Jepang Naikkan Suku Bunga, Mengapa Seluruh Dunia Merasa Cemas?

marsbit2j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片