Hedge Funds Reportedly Shorting USDT With Hudreds of Millions: Tether CTO Responds

CryptoPotatoDipublikasikan tanggal 2022-06-28Terakhir diperbarui pada 2022-06-28

Abstrak

Tether's CTO has responded to reports of hedge funds spending hundreds of millions of dollars to bet against USDT.

Paolo Ardoino, the chief technology officer (CTO) of Bitfinex and its stablecoin Tether (USDT), has reacted to reports that traditional hedge funds have joined retail traders in shorting USDT.
Hedge Funds Betting Against USDT
The Wall Street Journal (WSJ) reported Monday that a growing number of hedge funds had opened USDT short positions, worth hundreds of millions” of dollars in notional value, with Genesis Global Trading Inc., a leading crypto brokerage for professional investors, in the past month.
“There has been a real spike in the interest from traditional hedge funds who are taking a look at tether and looking to short it,” Leon Marshall, Genesis’ head of institutional sales, told WSJ in an interview.
The report further noted that some investors have been shorting USDT for at least a year, but more hedge fund managers picked up interest in betting against Tether after the fall of Terra’s algorithm stablecoin (UST) last month.
TerraUSD was one of the largest stablecoins in the market, with its value algorithmically pegged at 1:1 to the US dollar. However, UST lost its dollar parity and crashed 99% in May despite the efforts from the Terra team to defend the peg, including emptying its entire crypto reserve.
The UST collapse also affected Terra’s governance token LUNA, and the cryptocurrency slumped to zero from an all-time high of $119.02. The fiasco sent massive shockwaves through the stablecoin market and the broader crypto space, with billions wiped off the industry.
The drama also affected Tether, and USDT briefly lost its peg on exchanges, falling to as low as $0.97 before recovering.
Tether Confirms Stablecoins are Fully Backed
Marshall noted that hedge funds are shorting Tether because of the controversies surrounding Tether’s assets and the Federal Reserve’s decision to hike interest rates to combat inflation.
Last month, Tether issued a report confirming that its stablecoins are fully backed with cash, liquid assets, and other investments.
According to the report, the company’s total assets were worth at least $82.4 billion, with its total liabilities, including issued stablecoins, amounting to $82.2 billion.
Tether CTO Responds
Shortly after the WSJ report surfaced, Ardoino said on Twitter that he had been “open about the attempts from some hedge funds that were trying to cause further panic on the market after TERRA/LUNA collapse.”
I have been open about the attempts from some hedge funds that were trying to cause further panic on the market after TERRA/LUNA collapse.
It really seemed from the beginning a coordinated attack, with a new wave of FUD, troll armies, clowns, etc.
According to the Tether CTO, the move seemed like a “coordinated attack” from the onset and that hedge funds are always spreading FUD about the company and its stablecoins, including arguments that USDT is not 100% backed or that the firm issues tokens from thin air.
Ardoino believes that hedge funds that borrowed billions to short USDT will eventually have to buy back the stablecoin.
“Tether is the only stablecoin that is proven with fire under extreme pressure,” he said.
Meanwhile, since the Terra fiasco, Tether has unveiled two more stablecoins pegged to the Mexican peso and the British pound sterling. This brings the company’s total stablecoins to five.

Bacaan Terkait

Bank of Japan Siap Naikkan Suku Bunga, Apakah Saham-saham AI Tetap Bertahan?

**Ringkasan:** Pasar keuangan global saat ini sedang memantau ketat Bank of Japan (BoJ) menjelang keputusan suku bunganya pada 16 Juni. Banyak ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga dari 0.75% menjadi 1.0%. Keputusan ini penting karena **Yen Jepang telah lama menjadi "mata uang pembiayaan global" yang murah**. Melalui transaksi *carry trade*, investor meminjam Yen berbunga rendah untuk membeli aset berisiko tinggi dan berpotensi imbal hasil lebih besar seperti saham teknologi AI dan cryptocurrency. Kenaikan suku bunga BoJ, meski tampak kecil, menandakan awal **"uang murah" global mulai menghilang**. Ini meningkatkan biaya leverage dan dapat mengurangi selera risiko investor. Aset dengan *beta tinggi* seperti saham AI (Nvidia, Microsoft) dan crypto (Bitcoin, Ethereum) sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas dan biaya pendanaan global ini. Risiko utamanya bukan pada tingkat bunga 1%, tetapi pada **kecepatan normalisasi kebijakan** BoJ. Jika pasar mulai memperkirakan kenaikan suku bunga yang lebih cepat (misalnya, menjadi 1.25% pada akhir tahun), dapat memicu gelombang *unwind* (penutupan posisi) transaksi *carry trade* Yen. Investor akan menjual aset berisiko untuk membeli kembali Yen, berpotensi menyebabkan penurunan harga aset-aset tersebut secara bersamaan dan memperbesar volatilitas pasar. Intinya: BoJ tidak akan mengakhiri narasi dasar AI atau crypto, tetapi dapat **meninggikan "ambang batas pembiayaan"** untuk aset berisiko global. Di fase valuasi tinggi, likuiditas yang menyusut dapat menurunkan kelonggaran pasar terhadap valuasi dan mengurangi multipla yang bersedia dibayar untuk pertumbuhan masa depan. Pasca-keputusan, pantau hubungan antara: * Penguatan Yen * Peningkatan yield obligasi Jepang * Tekanan simultan pada aset *beta tinggi* (saham tech momentum, crypto). Sinyal ini akan menunjukkan apakah pasar mulai memperhitungkan kontraksi lebih dalam dari rantai leverage Yen.

marsbit3m yang lalu

Bank of Japan Siap Naikkan Suku Bunga, Apakah Saham-saham AI Tetap Bertahan?

marsbit3m yang lalu

Benarkah Ada "Kutukan Piala Dunia" di Pasar?

**Apakah "Kutuban Piala Dunia" Benar-Benar Ada di Pasar?** Dengan dimulainya Piala Dunia 2026, mitos "kutuban Piala Dunia" kembali beredar, yaitu tren pelemahan pasar saham global selama turnamen berlangsung. Data historis menunjukkan pola ini: Indeks S&P 500 AS rata-rata mengalami penurunan -1,5% hingga -2,11% dalam 19 turnamen sejak 1950, dengan 11 kali catatan negatif (58%). Pasar saham China (Shanghai Composite) juga turun 71% dalam 7 Piala Dunia terakhir. Pasar kripto menunjukkan hasil beragam. **Apa Penyebabnya?** Penelitian menemukan pengaruh langsung tapi terbatas. Saat pertandingan berlangsung, terutama jika tim nasional bermain, volume perdagangan saham turun drastis (hingga 55%). Kekalahan tim juga cenderung menekan pasar saham negara tersebut keesokan harinya. Namun, dampak utamanya mungkin berasal dari faktor musiman: Piala Dunia musim panas (Juni-Juli) kebetulan jatuh pada periode "Sell in May and go away," di mana pasar saham secara historis kurang bergairah. Buktinya, pada Piala Dunia 2022 di musim dingin (November-Desember), penurunan volume perdagangan lebih kecil. Untuk kripto seperti Bitcoin, faktor makro dan siklusnya sendiri (seperti peluncuran bursa, peretasan, atau "halving") jauh lebih berpengaruh daripada acara Piala Dunia. **Peluang Investasi selama Piala Dunia:** Peta peluang investasi telah bergeser seiring waktu. Sektor klasik seperti televisi tradisional tidak lagi mendapatkan keuntungan signifikan, digantikan oleh perusahaan *streaming* yang memegang hak siar. Sementara bir dan perlengkapan olahraga tetap stabil, pertumbuhannya melambat. Tren baru muncul di ruang digital, seperti kartu koleksi digital (NFT) pemain bintang di blockchain, yang mengalami kenaikan harga eksponensial. Taruhan olahraga dan pasar prediksi juga tetap menjadi sektor yang relevan. **Kesimpulan:** Meski ada korelasi statistik antara Piala Dunia dan kinerja pasar yang lebih lemah, bukti menunjukkan bahwa "kutuban" ini lebih disebabkan oleh kombinasi faktor musiman dan penurunan likuiditas karena perhatian investor yang teralihkan, bukan sebab-akibat langsung. Oleh karena itu, menikmati turnamen sambil berhati-hati dengan kondisi likuiditas pasar yang biasanya lebih rendah selama periode ini bisa menjadi pendekatan yang masuk akal bagi investor.

marsbit19m yang lalu

Benarkah Ada "Kutukan Piala Dunia" di Pasar?

marsbit19m yang lalu

Mengapa "Model Berlangganan Layanan AI" Pasti akan Menuju Kepunahan?

"Mengapa 'Layanan AI Berlangganan' Diprediksi Akan Pudar?" Model AI kini bergerak ke arah pembayaran berdasarkan pemakaian, seperti yang terlihat dari langkah Anthropic, OpenAI, dan GitHub. Claude Fable 5 misalnya, hanya dapat diakses gratis oleh pelanggan berlangganan selama 14 hari, setelah itu harus membeli kredit pemakaian. Pola serupa terlihat di seluruh industri: GitHub Copilot beralih ke kredit AI, dan OpenAI menyesuaikan tarif untuk klien perusahaan. Masalah utamanya adalah model berlangganan tradisional dirancang untuk konsumsi manusia yang terbatas waktu. Namun, dengan kemunculan agen AI yang dapat menjalankan tugas kompleks secara mandiri dan mengonsumsi token 5-30 kali lebih banyak dari percakapan biasa, batas konsumsi ini hilang. Data menunjukkan paket berlangganan seperti ChatGPT Plus atau Claude Max memberi nilai token yang jauh lebih tinggi daripada biaya langganannya, menciptakan subsidi besar yang tak berkelanjutan, terutama untuk pengguna berat. Upaya menaikkan harga atau membatasi kuota gagal karena hanya menarik pengguna dengan pemakaian sangat tinggi (seleksi terbalik). Solusi yang muncul adalah mempertahankan "kulit" langganan tetapi mengisinya dengan kredit pemakaian berdasarkan token, sehingga inti dari "harga tetap, pakai sepuasnya" menghilang. Perubahan ini didorong oleh evolusi teknologi AI menuju agen yang lebih otonom dan tekanan pasar modal menjelang IPO perusahaan-perusahaan AI. Bagi pengguna, ini berarti anggaran AI harus dikelola seperti tagihan listrik — setiap orang membayar untuk "meteran" sendiri. Meski demikian, periode berlangganan saat ini masih menawarkan nilai subsidi yang tinggi, dan bijaksana untuk memanfaatkannya untuk tugas-tugas berat sebelum transisi ke model pembayaran berdasarkan pemakaian sepenuhnya terjadi.

marsbit20m yang lalu

Mengapa "Model Berlangganan Layanan AI" Pasti akan Menuju Kepunahan?

marsbit20m yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片