Bitcoin Gives ‘Encouraging Signals’ As Cyclic Indicators Show BTC Is Close To A Bottom

zycryptoDipublikasikan tanggal 2022-06-28Terakhir diperbarui pada 2022-06-28

Abstrak

Seasoned Trader Who Correctly Predicted Bitcoin’s Latest Crash Now Sees A Local Bottom

Seasoned Trader Who Correctly Predicted Bitcoin’s Latest Crash Now Sees A Local Bottom

Bitcoin appears to be close to a bottom as revealed by the majority of cyclic indicators including but not limited to Bitcoin’s MVRV Ratio, SOPR Ratio, and Realized Cap-UTXO Age Bands. Data from these indicators reveal a historical pattern that has several times preceded a surging uptrend.

Bitcoin’s MVRV Ratio has a value of 0.9, indicating a price bottom

According to charts from crypto analytics platform, CryptoQuant, the majority of these indicators suggest that Bitcoin is currently undervalued, signaling an imminent rally. The considerable amount of unrealized loss in the bitcoin market also points to the reality that the asset is close to the bottom.

The Bitcoin Puell Multiple – the proportion of the daily issuance of Bitcoin to the annual average – is somewhere around the value of 0.4, indicating a likely bottom for the asset. The Bitcoin Puell Multiple value of 0.4 is the lowest for the coin for over 2 years.

Furthermore, Bitcoin’s MVRV Ratio which indicates the ratio of the asset’s actual market capitalization to the realized capitalization of the asset has the last value of 0.9, another indication of a bottom. Historically, an MVRV Ratio above 3.7 indicates a price top whereas values below 1 show a price bottom.

The last time the MVRV Ratio of Bitcoin reached a value close to this was in March of 2020 when Bitcoin sunk to a price of $4,800 against the dollar from the $8,500 price it started the month with. The asset later went on to end the year with a $28k value after touching that bottom.

BTCUSD Chart by TradingView

Bitcoin’s MPI appears to be on the high side

Additionally, the SOPR Ratio of Bitcoin in terms of Long Term Holders’ SOPR against Short Term Holders’ SOPR currently has a value of 0.6, further attesting to a price bottom. The Net Unrealised Profit and Loss (NUPL) with the last value of -0.05 confirms this attestation.

Conversely, Bitcoin Miners’ Position Index (MPI) appears to be on the high side, suggesting that bitcoin miners are dispensing over what their daily distribution ought to be. This is because miners are seeing less profit for their activities considering the sinking of bitcoin as opposed to the ever-rising utility fees for mining.

Most of these indicators signify a price bottom without any reasonable doubt, and as seen from historical data, the likelihood of an uptrend is close. Bitcoin (BTC) currently trades at a price of $20,918 against the dollar, having gained by 3.79% the past week.

Bacaan Terkait

Bank of Japan Siap Naikkan Suku Bunga, Apakah Saham-saham AI Tetap Bertahan?

**Ringkasan:** Pasar keuangan global saat ini sedang memantau ketat Bank of Japan (BoJ) menjelang keputusan suku bunganya pada 16 Juni. Banyak ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga dari 0.75% menjadi 1.0%. Keputusan ini penting karena **Yen Jepang telah lama menjadi "mata uang pembiayaan global" yang murah**. Melalui transaksi *carry trade*, investor meminjam Yen berbunga rendah untuk membeli aset berisiko tinggi dan berpotensi imbal hasil lebih besar seperti saham teknologi AI dan cryptocurrency. Kenaikan suku bunga BoJ, meski tampak kecil, menandakan awal **"uang murah" global mulai menghilang**. Ini meningkatkan biaya leverage dan dapat mengurangi selera risiko investor. Aset dengan *beta tinggi* seperti saham AI (Nvidia, Microsoft) dan crypto (Bitcoin, Ethereum) sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas dan biaya pendanaan global ini. Risiko utamanya bukan pada tingkat bunga 1%, tetapi pada **kecepatan normalisasi kebijakan** BoJ. Jika pasar mulai memperkirakan kenaikan suku bunga yang lebih cepat (misalnya, menjadi 1.25% pada akhir tahun), dapat memicu gelombang *unwind* (penutupan posisi) transaksi *carry trade* Yen. Investor akan menjual aset berisiko untuk membeli kembali Yen, berpotensi menyebabkan penurunan harga aset-aset tersebut secara bersamaan dan memperbesar volatilitas pasar. Intinya: BoJ tidak akan mengakhiri narasi dasar AI atau crypto, tetapi dapat **meninggikan "ambang batas pembiayaan"** untuk aset berisiko global. Di fase valuasi tinggi, likuiditas yang menyusut dapat menurunkan kelonggaran pasar terhadap valuasi dan mengurangi multipla yang bersedia dibayar untuk pertumbuhan masa depan. Pasca-keputusan, pantau hubungan antara: * Penguatan Yen * Peningkatan yield obligasi Jepang * Tekanan simultan pada aset *beta tinggi* (saham tech momentum, crypto). Sinyal ini akan menunjukkan apakah pasar mulai memperhitungkan kontraksi lebih dalam dari rantai leverage Yen.

marsbit2m yang lalu

Bank of Japan Siap Naikkan Suku Bunga, Apakah Saham-saham AI Tetap Bertahan?

marsbit2m yang lalu

Benarkah Ada "Kutukan Piala Dunia" di Pasar?

**Apakah "Kutuban Piala Dunia" Benar-Benar Ada di Pasar?** Dengan dimulainya Piala Dunia 2026, mitos "kutuban Piala Dunia" kembali beredar, yaitu tren pelemahan pasar saham global selama turnamen berlangsung. Data historis menunjukkan pola ini: Indeks S&P 500 AS rata-rata mengalami penurunan -1,5% hingga -2,11% dalam 19 turnamen sejak 1950, dengan 11 kali catatan negatif (58%). Pasar saham China (Shanghai Composite) juga turun 71% dalam 7 Piala Dunia terakhir. Pasar kripto menunjukkan hasil beragam. **Apa Penyebabnya?** Penelitian menemukan pengaruh langsung tapi terbatas. Saat pertandingan berlangsung, terutama jika tim nasional bermain, volume perdagangan saham turun drastis (hingga 55%). Kekalahan tim juga cenderung menekan pasar saham negara tersebut keesokan harinya. Namun, dampak utamanya mungkin berasal dari faktor musiman: Piala Dunia musim panas (Juni-Juli) kebetulan jatuh pada periode "Sell in May and go away," di mana pasar saham secara historis kurang bergairah. Buktinya, pada Piala Dunia 2022 di musim dingin (November-Desember), penurunan volume perdagangan lebih kecil. Untuk kripto seperti Bitcoin, faktor makro dan siklusnya sendiri (seperti peluncuran bursa, peretasan, atau "halving") jauh lebih berpengaruh daripada acara Piala Dunia. **Peluang Investasi selama Piala Dunia:** Peta peluang investasi telah bergeser seiring waktu. Sektor klasik seperti televisi tradisional tidak lagi mendapatkan keuntungan signifikan, digantikan oleh perusahaan *streaming* yang memegang hak siar. Sementara bir dan perlengkapan olahraga tetap stabil, pertumbuhannya melambat. Tren baru muncul di ruang digital, seperti kartu koleksi digital (NFT) pemain bintang di blockchain, yang mengalami kenaikan harga eksponensial. Taruhan olahraga dan pasar prediksi juga tetap menjadi sektor yang relevan. **Kesimpulan:** Meski ada korelasi statistik antara Piala Dunia dan kinerja pasar yang lebih lemah, bukti menunjukkan bahwa "kutuban" ini lebih disebabkan oleh kombinasi faktor musiman dan penurunan likuiditas karena perhatian investor yang teralihkan, bukan sebab-akibat langsung. Oleh karena itu, menikmati turnamen sambil berhati-hati dengan kondisi likuiditas pasar yang biasanya lebih rendah selama periode ini bisa menjadi pendekatan yang masuk akal bagi investor.

marsbit19m yang lalu

Benarkah Ada "Kutukan Piala Dunia" di Pasar?

marsbit19m yang lalu

Mengapa "Model Berlangganan Layanan AI" Pasti akan Menuju Kepunahan?

"Mengapa 'Layanan AI Berlangganan' Diprediksi Akan Pudar?" Model AI kini bergerak ke arah pembayaran berdasarkan pemakaian, seperti yang terlihat dari langkah Anthropic, OpenAI, dan GitHub. Claude Fable 5 misalnya, hanya dapat diakses gratis oleh pelanggan berlangganan selama 14 hari, setelah itu harus membeli kredit pemakaian. Pola serupa terlihat di seluruh industri: GitHub Copilot beralih ke kredit AI, dan OpenAI menyesuaikan tarif untuk klien perusahaan. Masalah utamanya adalah model berlangganan tradisional dirancang untuk konsumsi manusia yang terbatas waktu. Namun, dengan kemunculan agen AI yang dapat menjalankan tugas kompleks secara mandiri dan mengonsumsi token 5-30 kali lebih banyak dari percakapan biasa, batas konsumsi ini hilang. Data menunjukkan paket berlangganan seperti ChatGPT Plus atau Claude Max memberi nilai token yang jauh lebih tinggi daripada biaya langganannya, menciptakan subsidi besar yang tak berkelanjutan, terutama untuk pengguna berat. Upaya menaikkan harga atau membatasi kuota gagal karena hanya menarik pengguna dengan pemakaian sangat tinggi (seleksi terbalik). Solusi yang muncul adalah mempertahankan "kulit" langganan tetapi mengisinya dengan kredit pemakaian berdasarkan token, sehingga inti dari "harga tetap, pakai sepuasnya" menghilang. Perubahan ini didorong oleh evolusi teknologi AI menuju agen yang lebih otonom dan tekanan pasar modal menjelang IPO perusahaan-perusahaan AI. Bagi pengguna, ini berarti anggaran AI harus dikelola seperti tagihan listrik — setiap orang membayar untuk "meteran" sendiri. Meski demikian, periode berlangganan saat ini masih menawarkan nilai subsidi yang tinggi, dan bijaksana untuk memanfaatkannya untuk tugas-tugas berat sebelum transisi ke model pembayaran berdasarkan pemakaian sepenuhnya terjadi.

marsbit20m yang lalu

Mengapa "Model Berlangganan Layanan AI" Pasti akan Menuju Kepunahan?

marsbit20m yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片