Хакер SEC гуглил «проводит ли ФБР расследование против меня»

cryptonews.ruDipublikasikan tanggal 2021-12-14Terakhir diperbarui pada 2025-05-14

Эрик Каунсил-младший, хакер, занимающийся подменой SIM-карт, который помог взломать аккаунт X Комиссии по ценным бумагам и биржам в прошлом году, заработал 50 000 долларов, выполняя аналогичные атаки, и даже пытался узнать, расследует ли его ФБР, как показывают недавние документы.

Недавние документы были частью ходатайства прокурора о приговоре хакеру к двум годам тюрьмы за его роль во взломе, в результате которого на аккаунте SEC X было опубликовано ложное объявление об одобрении биржевого фонда биткоина, что потрясло рынки.

Каунсил искал:

«Как я могу точно узнать, ведет ли ФБР расследование в отношении меня» и «Сколько времени требуется, чтобы удалить учетную запись Telegram», — обнаружили прокуроры США после обыска его дома, машины и устройств в июне прошлого года, согласно судебному иску от 12 мая.

Хотя чаты Каунсила в Telegram были настроены на удаление через две недели, прокуроры США все же обнаружили те, в которых обсуждались замены SIM-карт с другими лицами, предположительно находящимися за границей.

Каунсил также признался правоохранительным органам, что получил около 50 000 долларов за выполнение замены SIM-карт для клиентов в период с января по июнь 2024 года. Он рекламировал себя как эксперта по замене SIM-карт в Telegram под именем easymunny, предлагая услуги за плату от 1200 до 1500 долларов.

Как Эрик Каунсил-младший провернул взлом, а затем был пойман

Каунсил осуществил замену SIM-карты, создав поддельные документы, удостоверяющие личность, чтобы специально выдать себя за человека, которого его сообщники определили как имеющего доступ к учетной записи SEC на X.

Эти поддельные документы затем использовались для того, чтобы обмануть сотрудника телекоммуникационной компании AT&T, заставив его переназначить номер телефона жертвы на SIM-карту Каунсила.


Каунсил в магазине AT&T 9 января 2024 года. Источник: Правительство США

Каунсил должен был предоставить последние четыре цифры номера социального страхования жертвы и водительские права, чтобы осуществить замену SIM-карты.

Затем он купил новый iPhone в магазине Apple в Алабаме, вставил новую SIM-карту и поделился кодами доступа к учетной записи X SEC со своими сообщниками, которые позже опубликовали фейковые новости о спотовых биткоин-ETF 9 января. Спотовые биржевые фонды биткоина (Bitcoin ETF) получили официальное одобрение на следующий день.

Каунсил получил оплату за замену SIM-карты SEC в биткоинах и других криптовалютах, заявили прокуроры.

Однако удача Каунсила закончилась 12 июня 2024 года, когда агенты наблюдения заметили, как он пытался выполнить замену SIM-карты в магазине Apple, выдавая себя за другую жертву.

Правоохранительные органы оформили ордер на обыск шесть дней спустя и обнаружили несколько косвенных улик, включая шаблоны для поддельных удостоверений личности на его ноутбуке.


Два поддельных документа, удостоверяющих личность, обнаружены в аккаунте Telegram Каунсила. Источник: Правительство США

Он признал себя виновным 10 февраля после того, как федеральное большое жюри вынесло обвинительное заключение, обвиняющее его в сговоре с целью совершения усугубленной кражи личных данных и мошенничестве с устройствами доступа в октябре прошлого года.

Поддельный пост собрал более 1 миллиона просмотров примерно за 15 минут, прежде чем SEC подтвердила, что аккаунт агентства был взломан.

Два объявления привели к тому, что цена биткоина изначально выросла на 1000 долларов, а затем резко упала почти на 2000 долларов вскоре после этого, уничтожив рыночные позиции на десятки миллионов долларов.

Команда безопасности X подтвердила, что на момент инцидента SEC не установила двухфакторную аутентификацию на своем аккаунте X. SEC заявила, что изначально 2FA была включена, но была ошибочно удалена службой поддержки X после запроса сотрудника SEC.

Bacaan Terkait

Kalshi Bukan Lawan Terberat Polymarket

Berdasarkan wawancara dengan CEO Kalshi, Tarek Mansour, pesaing terbesar platform prediksi pasar Kalshi bukanlah Polymarket, melainkan raksasa keuangan dan platform distribusi tradisional seperti CME Group, Robinhood, dan DraftKings. Perubahan ini didorong oleh masuknya pemain besar ke pasar prediksi. Robinhood, misalnya, telah mengintegrasikan kontrak acara ke dalam aplikasinya dan meluncurkan produk pasar prediksi sendiri, Rothera, mendorong pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Platform lain seperti Interactive Brokers, CME Group (bermitra dengan FanDuel), dan DraftKings juga mengadopsi pendekatan serupa, menjadikan pasar prediksi sebagai fitur tambahan dalam ekosistem perdagangan atau taruhan olahraga mereka yang sudah ada. Analis Bernstein memproyeksikan Piala Dunia FIFA 2026 sebagai titik balik besar bagi industri ini, berpotensi menghasilkan volume perdagangan baru miliaran dolar. Peristiwa olahraga besar seperti ini membantu pasar prediksi memperluas jangkauan di luar siklus pemilu. Dengan masuknya pemain mapan yang memiliki basis pengguna yang luas, model persaingan berubah. Pasar prediksi tidak lagi hanya tentang memperebutkan pengguna akhir, tetapi juga tentang perebutan saluran distribusi dan likuiditas. Platform seperti Kalshi dan Polymarket kini harus bersaing dengan raksasa yang dapat menawarkan perdagangan kontrak acara sebagai bagian dari layanan inti mereka dengan biaya marjinal yang rendah. Situasi ini mirip dengan persaingan di industri teknologi, seperti antara Zoom dan Microsoft Teams/Google Meet. Platform khusus seperti Kalshi dan Polymarket mungkin perlu mengembangkan kemampuan yang lebih dalam, seperti memperluas jenis aset, mengeksplorasi produk derivatif, atau meningkatkan infrastruktur, untuk mempertahankan relevansi di tengah dominasi platform distribusi yang lebih besar.

链捕手4m yang lalu

Kalshi Bukan Lawan Terberat Polymarket

链捕手4m yang lalu

Perang Subsidi Token Raksasa AI, Sudah Mau Berakhir?

Judul: "Pertempuran Subsidi Token" Raksasa AI, Sudah Mendekati Akhir? Artikel ini membahas "perang subsidi token" yang sedang berlangsung antara perusahaan-perusahaan AI besar seperti OpenAI, Anthropic, Google (Gemini), dan lainnya. Inti dari artikel ini adalah bahwa harga token yang dibayar oleh pengguna saat ini sebenarnya sudah sangat disubsidi, dengan beberapa paket berlangganan bahkan mensubsidi biaya token aktual hingga 70 kali lipat dari biaya berlangganan. Analisis menunjukkan bahwa model bisnis "rugi dulu untuk skala, untung belakangan" yang sukses di era internet (seperti Uber, Didi) mungkin tidak berlaku untuk AI. Alasannya, token AI hampir tidak memiliki efek "penguncian" (*lock-in effect*). Pengguna dapat dengan mudah berpindah platform jika harga naik karena API yang standar dan tidak ada jaringan lokal (seperti pengemudi atau restoran) yang mengikat. Artikel ini mempertimbangkan dua skenario akhir: 1. **Skenario "Layanan Internet"**: Satu atau dua pemenang akan mendominasi dan menaikkan harga. 2. **Skenario "Utililitas Publik"** (seperti listrik/air): Token menjadi komoditas dasar yang terstandarisasi. Persaingan akan mendorong harga turun mendekati biaya produksi, dengan margin keuntungan yang sangat tipis. Artikel berpendapat skenario ini lebih mungkin karena kurangnya *lock-in*. Ancaman utama bagi startup seperti OpenAI dan Anthropic datang dari raksasa seperti Google, yang memiliki mesin pencetak uang sendiri (iklan) untuk membiayai perang harga tanpa batas. Bill Maris dari Google Ventures bahkan menyatakan kemungkinan 100% Google akan memotong harga token secara drastis sebagai senjata persaingan. Kesimpulannya, "pertempuran subsidi" ini mungkin bukan perang untuk dimenangkan, melainkan "permainan tanpa akhir" untuk tetap berada di dalam persaingan. Proses ini justru mendorong adopsi AI secara massal dan menjadikannya infrastruktur publik yang penting. Bagi pengguna, selama perang subsidi berlanjut, mereka akan terus menikmati token AI dengan harga yang sangat murah dibandingkan biaya produksinya.

marsbit47m yang lalu

Perang Subsidi Token Raksasa AI, Sudah Mau Berakhir?

marsbit47m yang lalu

Pendapat: Trilemma Sama Sekali Bukanlah Masalah Nyata

Penulis berpendapat bahwa blockchain, pada dasarnya, adalah komputer lambat dan mahal yang dimiliki secara kolektif. Meski demikian, blockchain unggul karena bersifat tanpa izin (permissionless) dan tidak memerlukan kepercayaan pada pihak ketiga. Aplikasi utamanya adalah untuk aset keuangan, seperti stablecoin, di mana catatan di buku besar adalah aset itu sendiri. Namun, adopsi besar-besaran terhambat oleh dua kelemahan utama. Pertama, masalah legitimasi hukum yang timbul dari sifat tanpa izin, meski regulasi seperti GENIUS Act mulai mengatasinya. Kedua, dan yang paling kritis, adalah masalah transparansi total. Transparansi ini justru menjadi "pajak" karena semua transaksi dan posisi terbuka untuk umum, memungkinkan eksploitasi seperti MEV (Miner Extractable Value) yang telah merugikan pengguna miliaran dolar. Penulis menekankan bahwa privasi tidak bertentangan dengan kepatuhan. Dengan kriptografi modern seperti bukti pengetahuan nol (zero-knowledge proofs), seseorang dapat membuktikan kepatuhan (seperti solvensi atau KYC) tanpa mengungkapkan data pribadi atau posisi keuangan mereka. Ini menghilangkan "kebocoran" informasi sekaligus mempertahankan kemampuan audit. Solusi privasi default dengan bukti kepatuhan yang dapat diverifikasi bukanlah fitur tambahan, melainkan peningkatan mendasar. Ini akan membuka pintu bagi lembaga keuangan besar dan dana institusional yang selama ini enggan karena risiko paparan keuangan mereka. Dengan mengatasi defisit legitimasi dan privasi, blockchain akhirnya dapat memenuhi janjinya untuk menjadi infrastruktur keuangan global yang andal dan inklusif.

marsbit1j yang lalu

Pendapat: Trilemma Sama Sekali Bukanlah Masalah Nyata

marsbit1j yang lalu

OpenAI Melakukan Paling "Terbuka", Codex Tidak Lagi Eksklusif untuk GPT

OpenAI telah membuat langkah yang dianggap sebagai "yang paling terbuka" dengan mengintegrasikan kemampuan untuk menggunakan model sumber terbuka ke dalam Codex, asisten pemrograman berbasis AI mereka. Sebelumnya, Codex hanya dapat digunakan dengan model GPT milik OpenAI. Kini, pengembang dapat menggunakan baris konfigurasi sederhana seperti `--oss` untuk menjalankan model dari penyedia layanan lokal seperti Ollama dan LM Studio, atau bahkan mengonfigurasi penyedia model pihak ketiga. Perubahan ini memberikan fleksibilitas besar bagi pengembang. Mereka dapat mengatur arsitektur "campuran" di mana model OpenAI (seperti GPT) menangani perencanaan tugas yang kompleks, sementara model sumber terbuka yang lebih ringan dan hemat biaya mengeksekusi pembuatan kode. Selain itu, penggunaan model lokal memungkinkan pemrosesan offline, meningkatkan privasi, dan mengendalikan biaya. Namun, integrasi yang mulus tidak selalu langsung tercapai. Codex menggunakan protokol API "Responses" OpenAI, sedangkan banyak model sumber terbuka menggunakan standar "Chat Completions". Komunitas pengembang merespons dengan menciptakan lapisan penerjemah atau router (misalnya, CC Switch, LiteLLM) untuk menjembatani perbedaan protokol ini. Langkah OpenAI ini dilihat sebagai pergeseran strategi: dari sekadar penyedia model menjadi pengendali platform dan standar antarmuka. Dengan membuka lapisan integrasi model, OpenAI memperkuat posisi Codex sebagai pintu masuk utama bagi pengembang untuk pemrograman berbasis AI, terlepas dari model yang digunakan di baliknya.

marsbit2j yang lalu

OpenAI Melakukan Paling "Terbuka", Codex Tidak Lagi Eksklusif untuk GPT

marsbit2j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片