CoinDeskPolicyDipublikasikan tanggal 2024-04-04Terakhir diperbarui pada 2024-04-05

Abstrak

Maximum extractable value (MEV), in which blockchain operators reorder transactions to squeeze out additional profits, usually at the expense of whoever is sending the transac...

  • The European Securities and Markets Authority (ESMA) flagged a technique employed by some crypto miners as a potential form of market abuse in its latest regulatory proposals under MiCA.
  • Crypto policy watchers want the regulator to clarify that reordering transactions to maximize profits, known as MEV, is not all bad.

The European Union markets regulator flagged maximum extractable value (MEV), whereby blockchain operators reorder user transactions to maximize their own profits, as a potential form of market abuse, a stance that is worrying some industry watchers who say the case is not clear-cut.

In regulatory proposals published last week by the European Securities and Markets Authority (ESMA) under the digital assets law known as MiCA, the watchdog referred to MEV as potentially suspicious. MEV is broadly defined, but it generally encompasses trading strategies where blockchain operators – the companies and individuals that add blocks to the chain – preview the network's transaction queue to extract extra profits for themselves. Frequently, such tactics involve reordering user transactions – shifting how they're ordered into blocks, or frontrunning them with new transactions – just before the trades are written to the chain's ledger.

MEV is often called an "invisible tax" on users, since certain methods for extracting it, like sandwich attacks and frontrunning, can eat directly into end-user profits. While MEV is a controversial topic even within the industry, some industry advocates argue that MEV plays a positive role in general since it can help to improve blockchain network efficiency.

Advertisement
Advertisement

Read more: What is MEV?

“MEV by itself should not at all be considered as a market abuse and should not have a negative connotation," Anja Blaj, a policy expert at the European Crypto Initiative (EUCI), said in an interview over WhatsApp. "There are very limited scenarios and tactics that have similar effects to those of market abuse. This should be emphasized over and over again as MEV's purpose in the first place is to compensate the good actors for the validation work they do.”

Out of scope?

Some crypto policy watchers have argued that MEV is not even within MiCA’s scope, and EUCI has warned that applying MiCA to MEV could lead to overregulation. While it's true the MiCA text does not mention MEV, ESMA's consultation on proposals to tackle market abuse notes that the legislation extends the EU’s existing market abuse rules to include reporting suspicious activity resulting not just from transactions but also “the functioning of the distributed ledger technology such as the consensus mechanism.”

“MiCA is clear when indicating that orders, transactions, and other aspects of the distributed ledger technology may suggest the existence of market abuse e.g., the well-known maximum extractable value," it said.

Advertisement
Advertisement

ESMA also noted that MiCA doesn’t require crypto service providers to report activity such as “scams, payments fraud or account takeover.”

Peter Kerstens, an adviser to the European Commission on financial sector digitalization and cybersecurity, said MEV is neither good nor bad but may lead to questions about market integrity.

Investors have a legitimate expectation that transactions on the blockchain will be validated in the order they were submitted, and MEV reordering can lead to frontrunning, where the "validators" that operate blockchains can move their own transactions ahead of others to ink an extra profit, according to Kerstens.

“So MEV may lead to questions about the integrity of the market and it may trigger market abuse/frontrunning, but it does not have to in every instance,” Kerstens, who was instrumental in the creation of MiCA, said in a statement to CoinDesk.

Search for regulatory clarity

The legislation, whose full name is Markets in Crypto Assets, was finalized last year and made the EU the first major jurisdiction to comprehensively regulate the burgeoning digital assets sector.

ESMA and the European Banking Authority (EBA) have been consulting on measures and guidance they’re required to issue under MiCA, with industry watchers engaging with the watchdogs to improve clarity on the rules – particularly for various service providers.

EUCI is seeking more clarity from ESMA, ensuring that the regulator is clear on what scenarios involving MEV constitute market abuse.

“When, if, a malicious MEV tactic is detected, it should further be elaborated who's responsible for it," Blaj said. "We cannot talk about effective enforcement without clarity around the 'who' and 'what for.'”

Advertisement
Advertisement

Kerstens noted his thoughts on MEV are his personal views, but added that ESMA’s consultation seeking public feedback is in response to the European Commission – which proposed the MiCA framework – asking the regulator to provide advice on “if and when MEV is/leads to/can lead to market abuse.”

“So an official/institutional view on this may be forthcoming,” Kerstens said.

ESMA’s latest consultation is open for comments until June 25.

Edited by Sheldon Reback.

Bacaan Terkait

Perang Subsidi Token Raksasa AI, Sudah Mau Berakhir?

Judul: "Pertempuran Subsidi Token" Raksasa AI, Sudah Mendekati Akhir? Artikel ini membahas "perang subsidi token" yang sedang berlangsung antara perusahaan-perusahaan AI besar seperti OpenAI, Anthropic, Google (Gemini), dan lainnya. Inti dari artikel ini adalah bahwa harga token yang dibayar oleh pengguna saat ini sebenarnya sudah sangat disubsidi, dengan beberapa paket berlangganan bahkan mensubsidi biaya token aktual hingga 70 kali lipat dari biaya berlangganan. Analisis menunjukkan bahwa model bisnis "rugi dulu untuk skala, untung belakangan" yang sukses di era internet (seperti Uber, Didi) mungkin tidak berlaku untuk AI. Alasannya, token AI hampir tidak memiliki efek "penguncian" (*lock-in effect*). Pengguna dapat dengan mudah berpindah platform jika harga naik karena API yang standar dan tidak ada jaringan lokal (seperti pengemudi atau restoran) yang mengikat. Artikel ini mempertimbangkan dua skenario akhir: 1. **Skenario "Layanan Internet"**: Satu atau dua pemenang akan mendominasi dan menaikkan harga. 2. **Skenario "Utililitas Publik"** (seperti listrik/air): Token menjadi komoditas dasar yang terstandarisasi. Persaingan akan mendorong harga turun mendekati biaya produksi, dengan margin keuntungan yang sangat tipis. Artikel berpendapat skenario ini lebih mungkin karena kurangnya *lock-in*. Ancaman utama bagi startup seperti OpenAI dan Anthropic datang dari raksasa seperti Google, yang memiliki mesin pencetak uang sendiri (iklan) untuk membiayai perang harga tanpa batas. Bill Maris dari Google Ventures bahkan menyatakan kemungkinan 100% Google akan memotong harga token secara drastis sebagai senjata persaingan. Kesimpulannya, "pertempuran subsidi" ini mungkin bukan perang untuk dimenangkan, melainkan "permainan tanpa akhir" untuk tetap berada di dalam persaingan. Proses ini justru mendorong adopsi AI secara massal dan menjadikannya infrastruktur publik yang penting. Bagi pengguna, selama perang subsidi berlanjut, mereka akan terus menikmati token AI dengan harga yang sangat murah dibandingkan biaya produksinya.

marsbit27m yang lalu

Perang Subsidi Token Raksasa AI, Sudah Mau Berakhir?

marsbit27m yang lalu

Pendapat: Trilemma Sama Sekali Bukanlah Masalah Nyata

Penulis berpendapat bahwa blockchain, pada dasarnya, adalah komputer lambat dan mahal yang dimiliki secara kolektif. Meski demikian, blockchain unggul karena bersifat tanpa izin (permissionless) dan tidak memerlukan kepercayaan pada pihak ketiga. Aplikasi utamanya adalah untuk aset keuangan, seperti stablecoin, di mana catatan di buku besar adalah aset itu sendiri. Namun, adopsi besar-besaran terhambat oleh dua kelemahan utama. Pertama, masalah legitimasi hukum yang timbul dari sifat tanpa izin, meski regulasi seperti GENIUS Act mulai mengatasinya. Kedua, dan yang paling kritis, adalah masalah transparansi total. Transparansi ini justru menjadi "pajak" karena semua transaksi dan posisi terbuka untuk umum, memungkinkan eksploitasi seperti MEV (Miner Extractable Value) yang telah merugikan pengguna miliaran dolar. Penulis menekankan bahwa privasi tidak bertentangan dengan kepatuhan. Dengan kriptografi modern seperti bukti pengetahuan nol (zero-knowledge proofs), seseorang dapat membuktikan kepatuhan (seperti solvensi atau KYC) tanpa mengungkapkan data pribadi atau posisi keuangan mereka. Ini menghilangkan "kebocoran" informasi sekaligus mempertahankan kemampuan audit. Solusi privasi default dengan bukti kepatuhan yang dapat diverifikasi bukanlah fitur tambahan, melainkan peningkatan mendasar. Ini akan membuka pintu bagi lembaga keuangan besar dan dana institusional yang selama ini enggan karena risiko paparan keuangan mereka. Dengan mengatasi defisit legitimasi dan privasi, blockchain akhirnya dapat memenuhi janjinya untuk menjadi infrastruktur keuangan global yang andal dan inklusif.

marsbit1j yang lalu

Pendapat: Trilemma Sama Sekali Bukanlah Masalah Nyata

marsbit1j yang lalu

OpenAI Melakukan Paling "Terbuka", Codex Tidak Lagi Eksklusif untuk GPT

OpenAI telah membuat langkah yang dianggap sebagai "yang paling terbuka" dengan mengintegrasikan kemampuan untuk menggunakan model sumber terbuka ke dalam Codex, asisten pemrograman berbasis AI mereka. Sebelumnya, Codex hanya dapat digunakan dengan model GPT milik OpenAI. Kini, pengembang dapat menggunakan baris konfigurasi sederhana seperti `--oss` untuk menjalankan model dari penyedia layanan lokal seperti Ollama dan LM Studio, atau bahkan mengonfigurasi penyedia model pihak ketiga. Perubahan ini memberikan fleksibilitas besar bagi pengembang. Mereka dapat mengatur arsitektur "campuran" di mana model OpenAI (seperti GPT) menangani perencanaan tugas yang kompleks, sementara model sumber terbuka yang lebih ringan dan hemat biaya mengeksekusi pembuatan kode. Selain itu, penggunaan model lokal memungkinkan pemrosesan offline, meningkatkan privasi, dan mengendalikan biaya. Namun, integrasi yang mulus tidak selalu langsung tercapai. Codex menggunakan protokol API "Responses" OpenAI, sedangkan banyak model sumber terbuka menggunakan standar "Chat Completions". Komunitas pengembang merespons dengan menciptakan lapisan penerjemah atau router (misalnya, CC Switch, LiteLLM) untuk menjembatani perbedaan protokol ini. Langkah OpenAI ini dilihat sebagai pergeseran strategi: dari sekadar penyedia model menjadi pengendali platform dan standar antarmuka. Dengan membuka lapisan integrasi model, OpenAI memperkuat posisi Codex sebagai pintu masuk utama bagi pengembang untuk pemrograman berbasis AI, terlepas dari model yang digunakan di baliknya.

marsbit2j yang lalu

OpenAI Melakukan Paling "Terbuka", Codex Tidak Lagi Eksklusif untuk GPT

marsbit2j yang lalu

Ketika 500 Juta Orang Meninggalkan ChatGPT

Dalam tiga setengah tahun sejak ChatGPT diluncurkan, aplikasi yang pernah menjadi yang tercepat mencapai 1 miliar pengguna bulanan ini kini mencapai titik balik: pangsa pasarnya di pasar asisten AI global pertama kali turun di bawah 50% (menjadi 46,4% pada Mei 2026), menurut laporan Sensor Tower. Pesaing utama, Gemini (27,7%) dan Claude (10,3%), telah mengambil alih sebagian pasar. Pertumbuhan Gemini didorong oleh integrasi dengan ekosistem Google, sementara Claude unggul dalam skenario produktivitas seperti penulisan dan pengkodean. Ini menunjukkan pergeseran pengguna yang lebih pragmatis, yang memilih alat berdasarkan kemampuan spesifik, integrasi ekosistem, dan kepercayaan merek, bukan hanya pada kekuatan model. Industri ini juga memasuki fase komersialisasi yang lebih matang. Pengguna semakin bersedia membayar untuk fitur premium (13% pengguna Claude berlangganan), sementara ChatGPT mulai menguji iklan untuk mendukung biaya komputasi yang sangat besar. Meskipun pengunduhan dan pengeluaran aplikasi AI global terus tumbuh, laju pertumbuhannya melambat, dengan fokus yang lebih besar pada monetisasi. Meskipun kehilangan dominasi absolut, ChatGPT tetap menjadi asisten AI terbesar. Namun, pasar sekarang lebih terdiversifikasi, dengan pemain seperti Grok, Perplexity, dan DeepSeek yang bersaing di ceruk tertentu. Pergeseran ini menandai transisi AI dari teknologi yang menakjubkan menjadi alat sehari-hari yang dinilai berdasarkan kegunaan, efisiensi, dan nilai praktisnya. AI semakin tertanam dalam kehidupan, di mana pengguna dengan bebas bermigrasi untuk menemukan alat terbaik.

marsbit2j yang lalu

Ketika 500 Juta Orang Meninggalkan ChatGPT

marsbit2j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片